Hadis tentang Perlindungan Allah SWT terhadap Pemimpin
Hadis
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ إِمَامٌ عَادِلٌ وَشَابٌّ نَشَأَ فِى عِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ فِى خَلاَءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِى الْمَسْجِدِ وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللَّهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إِلَى نَفْسِهَا قَالَ إِنِّى أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا صَنَعَتْ يَمِينُهُ. (رواه البخاري: ٦٨٠٦)[١]
Terjemahan
Hadis dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, ia bersabda: ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah SWT pada hari kiamat di bawah naungan-Nya, pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya: pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seseorang yang mengingat Allah SWT dalam kesendirian lalu meneteskan air mata, seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah SWT, berkumpul dan berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang diajak oleh wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan (untuk berbuat maksiat), lalu ia berkata: sesungguhnya aku takut kepada Allah SWT, dan seseorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya. (HR al-Bukhari: 6806)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan keutamaan tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan perlindungan khusus dari Allah SWT pada hari kiamat, yaitu mereka yang memiliki keimanan kuat dan akhlak mulia dalam berbagai aspek kehidupan. Di antaranya adalah pemimpin yang adil, orang yang konsisten beribadah sejak muda, menjaga keikhlasan dalam berzikir dan bersedekah, mencintai karena Allah SWT, serta mampu menjaga diri dari godaan maksiat. Hal ini menunjukkan bahwa keselamatan di akhirat sangat ditentukan oleh keikhlasan, ketakwaan, dan integritas dalam menjalankan perintah Allah SWT serta menjauhi larangan-Nya.
Referensi
- Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim al-Bukhari, al-Jami' al-Musnad al-Shahih al-Mukhtashar min Umur Rasulullah SAW wa Sunanih wa Ayyamih, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1971), Jilid 22, h. 337

Komentar 0