Hadis tentang Pemimpin yang Terlalu Keras
Hadis
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ أَنَّ عَائِذَ بْنَ عَمْرٍو وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم دَخَلَ عَلَى عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ زِيَادٍ فَقَالَ أَىْ بُنَىَّ إِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ إِنَّ شَرَّ الرِّعَاءِ الْحُطَمَةُ فَإِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ فَقَالَ لَهُ اجْلِسْ فَإِنَّمَا أَنْتَ مِنْ نُخَالَةِ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ وَهَلْ كَانَتْ لَهُمْ نُخَالَةٌ إِنَّمَا كَانَتِ النُّخَالَةُ بَعْدَهُمْ وَفِى غَيْرِهِمْ. (رواه مسلم: ٤٨٣٨)[١]
Terjemahan
Al-Hasan telah menceritakan kepada kami, bahwa sesungguhnya A’idh bin ‘Amr RA yang termasuk sahabat Rasulullah SAW, pernah masuk menemui ‘Ubaidullah bin Ziyad, lalu ia berkata: wahai anakku, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya seburuk-buruk pemimpin adalah yang kejam. Maka berhati-hatilah engkau agar tidak termasuk golongan mereka. Maka ‘Ubaidullah berkata kepadanya, duduklah! sesungguhnya engkau hanyalah termasuk golongan rendahan dari sahabat Nabi SAW. Lalu ia menjawab, apakah di antara mereka (para sahabat) ada yang rendahan? sesungguhnya yang rendah itu muncul setelah mereka dan bukan dari kalangan mereka. (HR Muslim: 4838)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menegaskan larangan bagi pemimpin untuk bersikap keras, zalim, dan menindas rakyatnya, karena sifat tersebut termasuk ciri pemimpin yang buruk. Seorang pemimpin seharusnya bersikap adil, bijaksana, dan penuh kasih terhadap rakyatnya. Selain itu, hadis ini juga menunjukkan keberanian para sahabat dalam menasihati penguasa serta menegaskan kemuliaan generasi sahabat yang tidak pantas direndahkan. Dengan demikian, kepemimpinan yang baik adalah yang menjauhi kezaliman dan menerima nasihat demi kebaikan bersama.
Referensi
- Al-Imam Abu Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, al-Jami' al-Musnad al-Shahih al-Mukhtashar min as-Sunan bi Naql al-'Adl an Rasulullah, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1971), Jilid 6, h. 9

Komentar 0