Hadis tentang Pemimpin jangan Menyulitkan Rakyat
Hadis
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شُمَاسَةَ قَالَ أَتَيْتُ عَائِشَةَ أَسْأَلُهَا عَنْ شَىْءٍ فَقَالَتْ مِمَّنْ أَنْتَ فَقُلْتُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ مِصْرَ فَقَالَتْ كَيْفَ كَانَ صَاحِبُكُمْ لَكُمْ فِى غَزَاتِكُمْ هَذِهِ فَقَالَ مَا نَقَمْنَا مِنْهُ شَيْئًا إِنْ كَانَ لَيَمُوتُ لِلرَّجُلِ مِنَّا الْبَعِيرُ فَيُعْطِيهِ الْبَعِيرَ وَالْعَبْدُ فَيُعْطِيهِ الْعَبْدَ وَيَحْتَاجُ إِلَى النَّفَقَةِ فَيُعْطِيهِ النَّفَقَةَ فَقَالَتْ أَمَا إِنَّهُ لاَ يَمْنَعُنِى الَّذِى فَعَلَ فِى مُحَمَّدِ بْنِ أَبِى بَكْرٍ أَخِى أَنْ أُخْبِرَكَ مَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِى بَيْتِى هَذَا اللَّهُمَّ مَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ. (رواه مسلم: ٤٨٢٦)[١]
Terjemahan
Hadis dari ‘Abdurrahman bin Syumasah, ia berkata: aku datang kepada ‘Aisyah RA untuk menanyakan sesuatu. Maka ia berkata, dari mana engkau? aku menjawab, seorang laki-laki dari penduduk Mesir. Ia berkata, bagaimana pemimpin terhadap kamu dalam peperangan ini? Ia menjawab, kami tidak mencela apa pun darinya. Jika salah seorang dari kami kehilangan untanya, ia memberinya unta; jika kehilangan budaknya, ia memberinya budak; dan jika membutuhkan biaya, ia memberinya nafkah. Maka ‘Aisyah berkata, ketahuilah, apa yang ia lakukan terhadap Muhammad bin Abi Bakr, saudaraku, tidak menghalangiku untuk menyampaikan kepadamu apa yang aku dengar dari Rasulullah SAW di rumahku ini. ia bersabda: ya Allah, siapa saja yang memegang urusan umatku lalu ia mempersulit mereka, maka persulitlah ia. Siapa saja yang memegang urusan umatku lalu ia berlaku lembut kepada mereka, maka berlaku lembutlah engkau kepadanya. (HR Muslim: 4826)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menegaskan bahwa seorang pemimpin harus bersikap lembut, adil, dan memperhatikan kebutuhan rakyatnya, karena kepemimpinan adalah amanah yang berdampak langsung pada kesejahteraan umat. Rasulullah SAW mendoakan kebaikan bagi pemimpin yang memudahkan dan berbuat baik kepada rakyat, serta memberikan peringatan keras bagi mereka yang mempersulit dan menyusahkan. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan kepemimpinan diukur dari kepedulian dan kebaikan terhadap rakyat, serta konsekuensi besar yang akan diterima di hadapan Allah SWT sesuai dengan cara mereka menjalankan amanah tersebut.
Referensi
- Al-Imam Abu Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi al-Naisaburi, al-Jami' al-Musnad al-Shahih al-Mukhtashar min as-Sunan bi Naql al-'Adl an Rasulullah, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1971), Jilid 6, h. 7

Komentar 0