Hadis tentang Bersuci dengan Berwudhu Menghapus Dosa
Hadis
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ أَوْ الْمُؤْمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ، خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ، فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ، خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ -أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ، فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ، خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاء، حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنَ الذُّنُوبِ. (رواه مسلم: ٢٤٤)[1]
Terjemahan
Hadis dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: apabila seorang hamba Muslim atau mukmin berwudhu lalu ia membasuh wajahnya, maka keluarlah dari wajahnya setiap dosa yang dilakukan oleh kedua matanya bersama air atau bersama tetesan air terakhir. Apabila ia membasuh kedua tangannya, maka keluarlah dari kedua tangannya setiap dosa yang dilakukan oleh kedua tangannya bersama air atau bersama tetesan air terakhir. Apabila ia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah setiap dosa yang dilakukan oleh kedua kakinya bersama air atau bersama tetesan air terakhir, hingga ia keluar dalam keadaan bersih dari dosa. (HR Muslim: 244)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa wudhu tidak hanya berfungsi sebagai sarana bersuci secara fisik, tetapi juga sebagai media penghapus dosa. Setiap anggota tubuh yang dibasuh akan menggugurkan dosa-dosa yang pernah dilakukan olehnya, seperti dosa pandangan, perbuatan tangan, dan langkah kaki. Ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah SWT kepada hamba nya melalui amalan yang sederhana. Hadis ini mengajarkan bahwa Islam memberikan kesempatan berulang bagi seorang Muslim untuk membersihkan dirinya dari dosa, dengan menjaga wudhu secara rutin, seorang hamba dapat terus memperbarui kesucian dirinya, baik lahir maupun batin, sehingga ia senantiasa dalam keadaan dekat dengan Allah SWT.
Referensi
- Al-Imam Abu al-Husain bin al-Hajjaj al-Qusyairi an- Naisaburi, al-Jami’ al-Musnad as-Sahih al-Mukhtasar min as-Sunani bi Naql al-‘Adl ‘an al-‘Adl’an Rasulillah, (Dar al-Fikr, 2006), juz 1, bab 11, no hadis 244, h. 125.

Komentar 0