Hadis tentang Wudhu Penyempurna Thaharah
Hadis
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، قَالَ: كَانَتْ عَلَيْنَا رِعَايَةُ الْإِبِلِ فَجَاءَتْ نَوْبَتِي فَرَوَّحْتُهَا بِعَشِيٍّ، فَأَدْرَكْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا يُحَدِّثُ النَّاسَ، فَأَدْرَكْتُ مِنْ قَوْلِهِ: «مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهُ، ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ مُقْبِلٌ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ، إِلَّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ. (رواه مسلم: ٢٣٤)[1]
Terjemahan
Hadis dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: tidaklah seorang Muslim berwudhu lalu ia menyempurnakan wudhunya, kemudian ia berdiri melaksanakan shalat dua rakaat dengan menghadapkan hati dan wajahnya (khusyuk), melainkan pasti baginya surga. (HR Muslim: 234)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan tentang keutamaan menyempurnakan wudhu sebagai bentuk persiapan lahiriah sebelum melaksanakan ibadah. Wudhu yang dilakukan dengan benar menunjukkan ketaatan terhadap syariat serta kesungguhan dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selain itu, pelaksanaan shalat dua rakaat setelah wudhu menjadi bentuk penyempurna yang menghubungkan kesucian fisik dengan kekhusyukan batin. Hadis ini menunjukkan bahwa kualitas ibadah sangat ditentukan oleh kehadiran hati dan keikhlasan, dua rakaat yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan dapat menjadi sebab masuk surga. Hal ini menjadi motivasi bagi seorang Muslim untuk tidak meremehkan amalan kecil, karena jika dilakukan dengan benar, ia memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah SWT.
Referensi
- Al-Imam Abu al-Husain bin al-Hajjaj al-Qusyairi an- Naisaburi, al-Jami’ al-Musnad as-Sahih al-Mukhtasar min as-Sunani bi Naql al-‘Adl ‘an al-‘Adl’an Rasulillah, (Dar al-Fikr, 2006), juz 1, bab 6, no hadis 234, h. 122.

Komentar 0