Hadis tentang Siwak dan Wudhu
Hadis
عَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَاكُ وَهُوَ صَائِمٌ مَا لَا أُحْصِي أَوْ أَعُدُّ. وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوءٍ). وَيُرْوَى نَحْوُهُ عَنْ جَابِرٍ وَزَيْدِ بْنِ خَالِدٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَمْ يَخُصَّ الصَّائِمَ مِنْ غَيْرِهِ. وَقَالَتْ عَائِشَةُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ). وَقَالَ عَطَاءٌ وَقَتَادَةُ: يَبْتَلِعُ رِيقَهُ. [ش] (أَشُقَّ): أُدْخِلَ عَلَيْهِمُ الْمَشَقَّةَ وَالْحَرَجَ. (لَأَمَرْتُهُمْ): أَمْرَ إِيجَابٍ وَإِلْزَامٍ، وَهَذَا دَلِيلُ الِاسْتِحْبَابِ الْمُؤَكَّدِ. (مَطْهَرَةٌ): أَيْ إِنَّ السِّوَاكَ يُنَظِّفُ الْفَمَ وَيُنَقِّيهِ، فَيُقْبِلُ الْعَبْدُ عَلَى مُنَاجَاةِ رَبِّهِ بِرَائِحَةٍ زَكِيَّةٍ، فَيَرْضَى عَنْهُ وَيَقْبَلُ مِنْهُ عِبَادَتَهُ، وَيُكْثِرُ لَهُ الْأَجْرَ وَالْمَثُوبَةَ."] ( رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ :٦٨٢)[١]
Terjemahan
Hadis dari ‘Āmir bin Rabī‘ah, ia berkata: Aku melihat Nabi saw bersiwak ketika beliau sedang berpuasa, dan aku tidak dapat menghitungnya atau membatasinya (sering sekali beliau melakukannya).
Dan Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi saw bahwa beliau bersabda: ‘Seandainya aku tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan memerintahkan mereka bersiwak setiap kali berwudu.’Dan diriwayatkan semakna dengan itu dari Jabir bin Abdullah dan Zaid bin Khalid al-Juhani dari Nabi saw, tanpa mengkhususkan orang yang berpuasa dari yang tidak berpuasa. Dan Aisyah binti Abu Bakar berkata dari Nabi saw : ‘Siwak itu membersihkan mulut dan diridai oleh Tuhan.’ Dan ‘Atha’ serta Qatadah berkata: ‘Ia (orang yang bersiwak) menelan air liurnya (secara alami setelah bersiwak).(HR. al-Bukhari No: 672)
Isi Kandungan Hadis
Hadis-hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat seperti Amir bin Rabi‘ah, Abu Hurairah, dan Aisyah r.a. ini secara kolektif menegaskan keutamaan dan keabsahan bersiwak sebagai ibadah rutin, baik dalam kondisi berpuasa maupun tidak. Kandungan utamanya menunjukkan bahwa bersiwak merupakan amalan yang sangat dicintai oleh Rasulullah saw karena memiliki manfaat ganda: secara medis membersihkan mulut dari kotoran dan bau, serta secara spiritual mendatangkan keridaan Allah SWT. Penegasan bahwa Nabi saw bersiwak berulang kali tanpa batas saat berpuasa menjadi dalil kuat bahwa menjaga kebersihan mulut tidak membatalkan puasa, selama dilakukan dengan wajar. Hal ini diperkuat dengan pendapat para ulama seperti ‘Atha’ dan Qatadah bahwa menelan air liur secara alami setelah bersiwak adalah hal yang dimaafkan dan tidak merusak keabsahan puasa seseorang.
Referensi
1. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari , Kitab al-Shaum, Bab Siwak al-Rathbi wa al-Yabisi li al-Sha'im, No. 682 (Hadis Mu'allaq).

Komentar 0