Hadis tentang Merawat Kedua Orang Tua Termasuk Jihad
Hadis
حَدَّثَنَا حَبِيبُ بْنُ أَبِي ثَابِتٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا الْعَبَّاسِ الشَّاعِرَ وَكَانَ لَا يُتَّهَمُ فِي حَدِيثِهِ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَأْذَنَهُ فِي الْجِهَادِ فَقَالَ أَحَيٌّ وَالِدَاكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ. (رَوَاهُ الْبُخَارِيّ: ٣٠٠٤)[1]
Terjemahan
"Habib bin Abi Tsabit telah menceritakan kepada kami ia berkata bahwa ia mendengar Abu Al-‘Abbas Asy-Sya’ir, yang merupakan orang yang tidak buruk dalam meriwayatkan hadis-hadisnya, dan ia berkata bahwa ia mendengar ‘Abdullah bin ‘Amru RA berkata bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW untuk meminta izin ikut berjihad, kemudian Nabi SAW bertanya kepada laki-laki itu tentang keadaan kedua orang tuanya, lalu laki-laki itu menjawab bahwa kedua orang tuanya masih hidup, sehingga Nabi SAW memerintahkan laki-laki itu untuk berjihad kepada kedua orang tuanya dengan cara berbakti kepada keduanya.” (HR al-Bukhari: 3004)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menerangkan bahwa merawat, melayani, dan memenuhi kebutuhan kedua orang tua yang masih hidup dapat bernilai seperti jihad di jalan Allah SWT. Jika orang tua membutuhkan anaknya, maka berbakti kepada mereka harus lebih diutamakan. Nabi SAW tidak langsung mengizinkan sahabat tersebut berjihad, melainkan terlebih dahulu menanyakan keadaan kedua orang tuanya, yang menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap hak orang tua. Selama orang tua masih hidup dan membutuhkan kehadiran anaknya, maka merawat dan melayani mereka dinilai setara dengan keutamaan jihad fi sabilillah. Hal ini menegaskan bahwa jihad tidak selalu identik dengan peperangan fisik, tetapi juga mencakup perjuangan batin dalam berbakti kepada orang tua. Pelajaran ini mengingatkan setiap anak agar tidak terburu-buru meninggalkan orang tua demi kepentingan lain, sekalipun kepentingan tersebut tampak mulia, tanpa memastikan kebutuhan orang tua telah terpenuhi. Dengan demikian, kesabaran dan ketekunan dalam mengurus orang tua merupakan ladang pahala yang sangat besar bagi seorang anak.
Referensi
1. Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma‘il bin Ibrahim bin al-Mughirah al-Bukhari, Shahih al-Bukhari (Beirut: Dar Ibn Kathir, cet. ke-1, 2002), juz.11, h.35.

Komentar 0