40 HADIS BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

KTI

Selamat Datang Diaplikasi 40 Hadis Berbakti kepada Orang Tua

Temukan cahaya ilmu dari hadis-hadis pilihan yang mengingatkan pentingnya berbakti kepada orang tua sebagai jalan menuju keberkahan dan kebahagiaan.

Foto Muhammad Raiquri Hsb

Tentang Penulis

Muhammad Raiquri Hsb

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

Penyusun: Muhammad Raiquri Hsb

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Jasa Orang Tua yang Tidak Akan Mampu Terbalas oleh Anak

Disusun oleh: Muhammad Raiquri Hsb (@Quri) · Bagian dari 40 HADIS BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

Hadis

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَجْزِي وَلَدٌ وَالِدًا إِلَّا أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ: ٢٧٧٩)[1]

Terjemahan

“Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Seorang anak tidak akan pernah mampu membalas jasa orang tuanya, kecuali apabila ia mendapati orang tuanya dalam keadaan menjadi seorang budak, lalu ia membelinya kemudian memerdekakannya.”(HR Muslim: 2779)

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini menegaskan betapa besar dan agungnya jasa orang tua, khususnya ayah, sehingga seorang anak tidak akan pernah sanggup membalasnya secara setimpal meskipun ia telah berbuat kebaikan sebanyak apa pun sepanjang hidupnya. Rasulullah SAW kemudian memberikan permisalan yang sangat jarang terjadi sebagai satu-satunya cara agar seorang anak benar-benar dapat "membalas" jasa orang tuanya secara setara, yaitu apabila ia mendapati orang tuanya berstatus sebagai budak milik orang lain, lalu ia membelinya dengan hartanya sendiri dan langsung membebaskannya dari perbudakan, karena dengan cara itu si anak sesungguhnya telah "mengembalikan eksistensi" atau kemerdekaan hidup kepada orang tuanya, sebagaimana orang tua telah menjadi sebab keberadaan dirinya di dunia. Para ulama menjelaskan bahwa permisalan ini bersifat hiperbolik (mubalaghah) untuk menunjukkan bahwa hakikatnya jasa orang tua memang mustahil untuk benar-benar terbalaskan, sehingga hadis ini mendorong setiap anak agar senantiasa berusaha semaksimal mungkin dalam berbakti, bersyukur, dan berbuat baik kepada orang tuanya sepanjang hayat, baik ketika orang tua masih hidup maupun setelah wafat melalui doa, silaturahmi kepada kerabat mereka, dan memuliakan sahabat-sahabat mereka.

Referensi

1. Shahih Muslim, karya Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi al-Naisaburi, Shahih Muslim (Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, t.th.), juz.10, h.60.

Komentar 0