Hadis tentang Larangan Memandang Orang Tua dengan Tatapan Benci
Hadis
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى رَجُلٍ نَظَرَ إِلَى وَالِدَيْهِ نَظْرَةَ مَقْتٍ، وَهُمَا ظَالِمَانِ لَهُ». (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ: ٢٦٥٣)[1]
Terjemahan
“Hadis dari Abu Hurairah RA, ia berkata Rasulullah SAW bersabda: "Allah SWT tidak akan memandang (dengan pandangan rahmat) kepada seseorang yang memandang kedua orang tuanya dengan pandangan kebencian, sekalipun keduanya berbuat zalim kepadanya." (HR al-Bukhari: 2653)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini mengajarkan bahwa seorang anak tetap diperintahkan menjaga adab terhadap kedua orang tuanya, bahkan ketika menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan. Salah satu bentuk birrul walidain adalah menjaga ekspresi wajah, tidak memandang dengan tatapan penuh kebencian, serta tetap menghormati mereka. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengatur ucapan dan perbuatan kepada orang tua, tetapi juga adab hati yang tercermin melalui pandangan mata.
Referensi
1. Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma‘il bin Ibrahim bin al-Mughirah al-Bukhari, Shahih al-Bukhari (Beirut: Dar Ibn Kathir, cet. ke-1, 2002), juz.9, h.444.

Komentar 0