Hadis tentang Anjuran Menghajikan Orang Tua yang Tidak Mampu
Hadis
عَنْ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ خَثْعَمٍ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِي أَدْرَكَتْهُ فَرِيضَةُ اللَّهِ فِي الْحَجِّ وَهُوَ شَيْخٌ كَبِيرٌ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْتَوِيَ عَلَى ظَهْرِ الْبَعِيرِ قَالَ حُجِّي عَنْهُ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَلِيٍّ وَبُرَيْدَةَ وَحُصَيْنِ بْنِ عَوْفٍ وَأَبِي رَزِينٍ الْعُقَيْلِيِّ وَسَوْدَةَ بِنْتِ زَمْعَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَرُوِيَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ حُصَيْنِ بْنِ عَوْفٍ الْمُزَنِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرُوِيَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَيْضًا عَنْ سِنَانِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْجُهَنِيِّ عَنْ عَمَّتِهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرُوِيَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَسَأَلْتُ مُحَمَّدًا عَنْ هَذِهِ الرِّوَايَاتِ فَقَالَ أَصَحُّ شَيْءٍ فِي هَذَا الْبَابِ مَا رَوَى ابْنُ عَبَّاسٍ عَنْ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مُحَمَّدٌ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ ابْنُ عَبَّاسٍ سَمِعَهُ مِنْ الْفَضْلِ وَغَيْرِهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ رَوَى هَذَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَرْسَلَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ الَّذِي سَمِعَهُ مِنْهُ قَالَ أَبُو عِيسَى وَقَدْ صَحَّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْبَابِ غَيْرُ حَدِيثٍ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ وَبِهِ يَقُولُ الثَّوْرِيُّ وَابْنُ الْمُبَارَكِ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَقُ يَرَوْنَ أَنْ يُحَجَّ عَنْ الْمَيِّتِ و قَالَ مَالِكٌ إِذَا أَوْصَى أَنْ يُحَجَّ عَنْهُ حُجَّ عَنْهُ وَقَدْ رَخَّصَ بَعْضُهُمْ أَنْ يُحَجَّ عَنْ الْحَيِّ إِذَا كَانَ كَبِيرًا أَوْ بِحَالٍ لَا يَقْدِرُ أَنْ يَحُجَّ وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ الْمُبَارَكِ وَالشَّافِعِيِّ . (رواه الترمذي: ٩٤٠)[1]
Terjemahan
Hadis dari Al-Fadl bin Abbas bahwa seorang wanita dari Khats'am bertanya: wahai Rasulullah, bapakku sudah terkena kewajiban haji namun ia seorang yang tua renta dan tidak kuat untuk menaiki kendaraan. Rasulullah SAW bersabda: berhajilah untuknya. Abu Isa al-Tirmidzi berkata: hadis semakna diriwayatkan dari Ali, Buraidah, Hushain bin 'Auf, Abu Razin Al-Uqaili, Saudah binti Zam'ah dan Ibnu Abbas. Abu 'Isa berkata: hadis Al-Fadl bin Abbas merupakan hadis hasan shahih dan diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas dari Hushain bin 'Auf al-Muzani dari Nabi SAW dan hadis ini diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas dari Sinan bin Abdullah al-Juhani dari bibinya dari Nabi SAW, serta diriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW langsung. Abu Isa al- Tirmidzi berkata: saya bertanya kepada Muhammad tentang semua riwayat di atas, dia menjawab: yang paling shahih ialah yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dari al-Fadl bin Abbas dari Nabi SAW. Muhammaad menambahkan: tidak menutup kemungkinan Ibnu Abbas mendengar hadits ini dari al-Fadl bin Abbas dan dari selainnya dari Nabi SAW, kemudian dia meriwayatkan hadis ini dan memursalkannya dengan tidak menyebut orang yang mendengar darinya. Abu 'Isa berkata: dan telah banyak hadis shahih yang diriwayatkan dari Nabi SAW dalam masalah ini. Hadis ini diamalkan oleh para ulama baik dari kalangan para sahabat Nabi SAW maupun selain mereka. ini juga pendapat Sufyan ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, Syafi'i, Ahmad dan Ishaq. Semuanya berpendapat boleh menghajikan orang yang telah meninggal, sedangkan Malik berpendapat: "jika dia berwasiat sebelum wafat untuk dihajikan maka boleh dihajikan. Sebagian ulama yaitu Ibnul Mubarak dan Syafi'i membolehkan untuk menghajikan orang yang masih hidup, jika dia sudah tua renta atau karena sesuatu yang menyebabkannya dia tidak mampu berhaji. Ini adalah pendapat Ibnu Mubarak dan asy Syafi'i. (HR al-Tirmidzi: 940)
Isi kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa Rasulullah SAW dalam khutbah Haji Wada’ memberikan wasiat penting kepada umatnya tentang ketetapan Allah dalam pembagian hak-hak manusia, sehingga setiap ahli waris telah memiliki bagian yang ditentukan dan tidak diperbolehkan lagi membuat wasiat untuk ahli waris. Beliau juga berwasiat agar menjaga kejelasan nasab dengan menisbatkan anak kepada ayah kandungnya serta melarang keras seseorang mengaku kepada selain ayah atau walinya, karena hal tersebut dapat mendatangkan laknat Allah. Selain itu, Rasulullah SAW menekankan pentingnya menjaga amanah dalam rumah tangga, termasuk larangan bagi istri menggunakan harta suami tanpa izin, serta penegasan tentang tanggung jawab hutang dan jaminan, yang semuanya menunjukkan pentingnya keadilan dan ketaatan terhadap aturan Allah dalam kehidupan bermasyarakat.
Referensi
- Abu `Isa Muhammad bin `Isa bin Saurah at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, (Riyadh: Maktabah al-Ma’arif, 1420 H/2000 M), Juz 4, h. 85.

Komentar 0