Hadis tentang Bentuk Syirik karena Meniru Ciptaan Allah SWT dan Hukumannya
Hadis
حَدَّثَنَا سَعِيدٌ قَالَ: سَمِعْتُ النَّضْرَ بْنَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ يُحَدِّثُ قَتَادَةَ، قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ وَهُمْ يَسْأَلُونَهُ، وَلَا يَذْكُرُ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، حَتَّى سُئِلَ فَقَال: سَمِعْتُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنْ صَوَّرَ صُورَةً فِي الدُّنْيَا، كُلِّفَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنْ يَنْفُخَ فِيهَا الرُّوحَ، وَلَيْسَ بِنَافِخٍ. (رواه البخاري: ٥٦١٨)[١]
Terjemahan
Sa‘id telah menceritakan kepada kami, ia berkata: aku mendengar An-Nadhr bin Anas bin Malik menceritakan kepada Qatadah, ia berkata: aku berada di sisi Ibnu ‘Abbas, sementara orang-orang bertanya kepadanya, dan ia tidak menyebut Nabi SAW, hingga ia ditanya, maka ia berkata: aku mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda: siapa yang membuat gambar (makhluk bernyawa) di dunia, maka pada hari kiamat ia akan dibebani untuk meniupkan ruh ke dalamnya, dan ia tidak akan mampu melakukannya. (HR al-Bukhari: 5618)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan tentang hukuman berat di hari kiamat bagi orang yang sengaja menggambar atau membuat patung makhluk bernyawa (al-mushawwir). Rasulullah SAW menegaskan bahwa pembuat visual makhluk bernyawa akan dipaksa secara sia-sia untuk meniupkan ruh ke dalam karyanya sebagai bentuk siksaan dan penghinaan atas kesombongan mereka di dunia. Perbuatan meniru ciptaan Allah SWT ini dikategorikan sebagai syirik dalam hal Rububiyah (perbuatan Allah SWT) karena seolah-olah manusia ingin menandingi sifat Allah SWT sebagai al-Khaliq (Maha Pencipta). Selain itu, pelarangan ketat ini ditujukan untuk memutus akar sejarah kesyirikan, di mana penyembahan berhala zaman dahulu selalu diawali dari pengagungan gambar dan patung. Oleh karena itu, inti hadis ini melarang keras pembuatan visual makhluk hidup yang menyerupai ciptaan Allah SWT demi menjaga kemurnian akidah umat Islam.
Referensi
- Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al-Bukhari, al-Jami’ al-Musnad al-Shahih al-Mukhtasar min Umur Rasulillah sallallahu `Alaihi wa Sallam wa Sunani wa Ayyamih, Kitab al-Libas, Bab 97, Hadis nomor 5618, (Damaskus: Dar Ibn Kathir, 2002), h. 1498.

Komentar 0