Hadis tentang Syirik sebagai Dosa Paling Besar
Hadis
قَالَ عَبْدُ اللهِ: قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُوْلَ اللهِ، أيُّ الذَّنْبِ أَكْبَرُ عِنْدَ اللهِ؟ قَالَ: أَنْ تَدْعُو لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ ؟. قَالَ: أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ مَخَافَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ قَالَ: ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ: أَنْ تُزَانِيَ حَلِيْلَةَ جَارَكَ فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ تَصْدِيْقَهَا: وَالَّذِيْنَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِاْلحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا. (رواه مسلم: ١٤٢)[١]
Terjemahan
Abdullah berkata: seorang laki-laki berkata: wahai Rasulullah SAW, dosa apa yang paling besar di sisi Allah SWT? Nabi SAW menjawab: engkau berdoa (menjadikan) bagi Allah SWT tandingan, padahal dia yang menciptakanmu. Ia berkata: kemudian apa lagi? Nabi SAW menjawab: engkau membunuh anakmu karena takut ia makan bersamamu. Ia berkata: kemudian apa lagi? Nabi SAW menjawab: engkau berzina dengan istri tetanggamu. kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan sebagai pembenaran terhadap hal itu: dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain selain Allah SWT, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah SWT kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina. Siapa yang melakukan itu, niscaya dia akan mendapatkan dosa yang berat. (HR Muslim: 142)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan tentang tiga dosa besar yang sangat dibenci Allah SWT, yaitu menyekutukan-Nya dalam ibadah, membunuh anak karena takut miskin, dan berzina dengan istri tetangga. Ketiga perbuatan tersebut tidak hanya merusak hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga merugikan sesama serta merusak tatanan sosial. Larangan ini kemudian ditegaskan dalam Surah Al-Furqan ayat 68 yang menyebutkan ancaman berat bagi pelakunya. Hadis ini mengajarkan pentingnya menjaga tauhid, menghargai kehidupan, serta memelihara kehormatan diri dan hubungan baik dengan sesama.
Referensi
- Al-Imam Abu al-Husain bin al-Hajjaj al-Qusyairi al-Naisaburi, al-Jami’ al-Musnad al-Shahih al-Mukhtasar min al-Sunani bi Naql al-`Adl `an al-`Adl `an Rasulillah, Kitab al-Iman, Bab 37, Hadis nomor 141, (Riyadh: Bayt al-Afkar al-Dawliyyah, 1419 H/1998 M), h. 62.

Komentar 0