Hadis tentang Larangan Memuji Nabi SAW Secara Berlebihan sebagai Pencegahan dari Syirik
Hadis
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ سَمِعَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ عَلَى الْمِنْبَرِ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ. (رواه البخاري: ٣٢٦١)[١]
Terjemahan
Hadis dari Ibn Abbas, bahwa ia mendengar Umar ibn al-Khattab RA berkata di atas mimbar: aku mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda: janganlah kalian berlebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan memuji Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah: hamba Allah SWT dan Rasul-Nya. (HR al-Bukhari: 3261)
Hadis ini menjelaskan tentang peringatan keras Rasulullah SAW kepada umat Islam agar tidak bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) dalam memuji dan mengagungkan Nabi SAW. Rasulullah SAW melarang keras umatnya meniru kaum Nasrani yang jatuh ke dalam syirik akbar karena menaikkan derajat Nabi Isa AS bin Maryam dari seorang nabi menjadi tuhan yang disembah. Demi menutup rapat segala celah kesyirikan, Nabi SAW menegaskan hakikat dirinya yang mulia namun tetap merupakan seorang manusia biasa yang dipilih Allah SWT, sehingga kedudukan tertinggi Nabi SAW harus disandarkan pada dua sifat utama, yaitu "Abdullah" (hamba Allah SWT) dan "Rasuluhu" (utusan-Nya). Oleh karena itu, inti hadis ini memerintahkan umat Islam untuk menjaga kemurnian akidah dengan menempatkan para nabi sesuai dengan porsi yang diberikan oleh syariat tanpa menyertakan sifat-sifat ketuhanan kepada mereka.
Referensi
- Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al-Bukhari, al-Jami’ al-Musnad al-Shahih al-Mukhtasar min Umur Rasulillah sallallahu `Alaihi wa Sallam wa Sunani wa Ayyamih, Kitab Ahadis al-Anbiya', Bab 48, Hadis nomor 3261, (Damaskus: Dar Ibn Kathir, 2002), h. 854.

Komentar 0