Hadis tentang Riya dalam Ibadah sebagai Wujud Nyata dari Syirik Khafi
Hadis
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ فَقَالَ أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِى مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ. قَالَ قُلْنَا بَلَى. فَقَالَ: الشِّرْكُ الْخَفِىُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّى فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ. (رواه ابن ماجه: ٤٣٤٤)[١]
Terjemahan
Hadis dari Abi Sa'id, ia berkata: Rasulullah SAW keluar menemui kami saat kami sedang berbincang-bincang tentang al-Masih Dajjal. Nabi SAW bersabda: maukah aku kabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih aku takuti menimpa kalian daripada al-Masih Dajjal? kami menjawab: tentu wahai Rasulullah. Maka Nabi SAW bersabda: syirik khafi yaitu seseorang berdiri melakukan shalat, lalu ia memperbagus shalatnya karena ia melihat ada orang lain yang memperhatikannya. (HR Ibnu Majah: 4344)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan tentang momen ketika Rasulullah SAW mendatangi para sahabat yang sedang membicarakan fitnah Dajjal, lalu beliau menyampaikan bahwa ada ancaman yang lebih beliau khawatirkan bagi umatnya, yaitu syirik yang tersembunyi (syirik khafi). Nabi SAW menjelaskan bahwa syirik ini berupa riya, yaitu ketika seseorang memperindah ibadahnya karena ingin dilihat dan dipuji oleh orang lain. Melalui perumpamaan orang yang memperbaiki shalatnya saat ada yang melihat, Rasulullah SAW menegaskan bahwa riya adalah penyakit hati yang sangat berbahaya karena merusak keikhlasan secara halus tanpa disadari. Meskipun konteks hadis ini menyebutkan shalat, para ulama menjelaskan bahwa larangan ini berlaku universal untuk seluruh bentuk ibadah lain seperti sedekah, puasa, dan membaca al-Qur'an di mana motifnya bergeser demi mengharapkan pujian makhluk, sehingga merusak kemurnian tauhid. Secara keseluruhan, hadis ini menekankan pentingnya menjaga kemurnian niat dalam ibadah agar terhindar dari syirik tersembunyi.
Referensi
- Abu `Abdillah Muhammad bin Yazid al-Qazwini Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Kitab al-Zuhud, Bab 21, Hadis nomor 4344, (Al-Jubail: Dar al-Siddiq & Beirut: Muassasah al-Rayyan, 1431 H/2010 M), h. 688.

Komentar 0