40 HADIS EKOTEOLOGI

KTI

Assalamu'alaikum, Selamat Datang di Aplikasi 40 Hadis Ekoteologi

Ekoteologi merupakan cara pandang yang menghubungkan ajaran agama dengan kepedulian terhadap alam dan lingkungan. Kata ini gabungan dari ekologi (ilmu tentang lingkungan) dan teologi (ilmu tentang ketuhanan). Lalu, bagaimana hadis Nabi SAW memandang hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan? Temukan jawabannya melalui koleksi hadis dalam aplikasi ini.

Foto Milda Yanti Putri

Tentang Penulis

Milda Yanti Putri

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS EKOTEOLOGI

Penyusun: Milda Yanti Putri

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Larangan Eksploitasi Hewan

Disusun oleh: Milda Yanti Putri (@mildaputri_) · Bagian dari 40 HADIS EKOTEOLOGI

Hadis

عَنْ سَهْلِ ابْنِ الْحَنْظَلِيَّةِ قَالَ: مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِبَعِيرٍ قَدْ لَحِقَ ظَهْرُهُ بِبَطْنِهِ فَقَالَ اتَّقُوا اللَّهَ فِى هَذِهِ الْبَهَائِمِ الْمُعْجَمَةِ فَارْكَبُوهَا وَكُلُوهَا صَالِحَةً. (رواه أبو داود: ٢٥٥٠)[١]

Terjemahan

Hadis dari Sahal bin al-Hanzhaliyyah, ia berkata:  Rasulullah SAW melintasi seekor unta yang punggungnya telah menempel dengan perutnya (karena sangat kurus), lalu ia bersabda: bertakwalah kepada Allah pada hewan-hewan ternak yang bisu ini. Tunggangilah mereka dengan baik dan makanlah mereka dengan baik pula. (HR Abu Dawud: 2550)

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini menjelaskan tentang larangan memperlakukan hewan secara zalim, seperti membiarkannya kelaparan atau mengeksploitasinya di luar batas kemampuannya. Nabi SAW menekankan agar manusia bertakwa dalam memperlakukan hewan, yaitu dengan memanfaatkannya secara layak dan penuh tanggung jawab. Ditinjau dalam perspektif ekoteologi ini menunjukkan bahwa hewan adalah bagian dari ekosistem yang harus dijaga kesejahteraannya, sehingga hubungan manusia dengan makhluk lain berdasarkan kasih sayang dan keberlanjutan bukan eksploitasi.

Referensi

  1. Abu Dawud Sulaiman bin al-'Asy’ats al-Sijistaniy al-Azdiy, Sunan Abi Dawud,  (Beirut: Dar Ibnu Hazam, 1997), Juz 7, h. 454.

Komentar 0