40 HADIS SAINS

KTI

أهــــلًا وسهــــلًا

Ketika banyak orang menaruh perhatian besar pada sains dan teknologi, dialog yang menghubungkan keimanan dengan pengetahuan dapat membuka ruang yang lebih luas untuk memahami ajaran Islam secara rasional sekaligus spiritual. Aplikasi ini yang diberi dengan nama "40 Hadis Sains" mengulas berbagai hadis Nabi ﷺ tentang fenomena alam, fenomena biologis, kesehatan, dan lainnya yang menghubungkan dengan temuan ilmiah modern. Semakin berkembang ilmu pengetahuan, semakin tampak keluasan ilmu Allah dan kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW. Cocok bagi siapa saja yang ingin memperkuat keimanan sekaligus mengasah cara berpikir kritis dan ilmiah.

Foto Zayid Abdurrahman

Tentang Penulis

Zayid Abdurrahman

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS SAINS

Penyusun: Zayid Abdurrahman

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Fase-fase Penciptaan Manusia

Disusun oleh: Zayid Abdurrahman (@zayieed) · Bagian dari 40 HADIS SAINS

Teks Hadis

عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - وَهْوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ قَالَ « إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ مَلَكًا ، فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ ، وَيُقَالُ لَهُ اكْتُبْ عَمَلَهُ وَرِزْقَهُ وَأَجَلَهُ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ . ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ ، فَإِنَّ الرَّجُلَ مِنْكُمْ لَيَعْمَلُ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجَنَّةِ إِلاَّ ذِرَاعٌ ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ كِتَابُهُ ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ ، وَيَعْمَلُ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارِ إِلاَّ ذِرَاعٌ ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ » .(البخاري: ٣٢٠٨)

Terjemah Hadis

Hadis dari Zaid bin Wahb, ia berkata: Abdullah (bin Mas'ud) berkata bahwa Rasulullah SAW —beliau adalah orang yang jujur dan dibenarkan perkataannya— bersabda: "Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah ('alaqah) selama itu juga (40 hari), kemudian menjadi segumpal daging (mudghah) selama itu juga (40 hari), kemudian Allah mengutus seorang malaikat yang diperintahkan dengan empat ketetapan; dikatakan kepadanya: Tulislah amal perbuatannya, rezekinya, ajalnya, serta apakah ia celaka atau bahagia. Kemudian ditiupkanlah roh ke dalamnya. Maka sesungguhnya ada seseorang di antara kalian yang beramal hingga jarak antara dirinya dengan surga tinggal satu hasta, namun ketetapan takdir mendahuluinya, sehingga ia melakukan amalan penghuni neraka (di akhir hayatnya); dan ada seseorang yang beramal hingga jarak antara dirinya dengan neraka tinggal satu hasta, namun ketetapan takdir mendahuluinya, sehingga ia melakukan amalan penghuni surga."

Kandungan Hadis

Hadis ini menjelaskan bahwa proses penciptaan manusia berlangsung secara bertahap di dalam rahim. Rasulullah ﷺ menyebutkan fase-fase perkembangan janin, yaitu selama empat puluh hari berupa nutfah, kemudian berubah menjadi 'alaqah (sesuatu yang melekat), lalu menjadi mudghah (segumpal daging). Setelah itu Allah mengutus malaikat untuk menetapkan empat perkara, yaitu rezeki, ajal, amal, serta kebahagiaan atau kesengsaraan seseorang, kemudian ditiupkan ruh kepadanya. Hadis ini mengajarkan bahwa kehidupan manusia berada dalam pengaturan dan kekuasaan Allah sejak awal penciptaannya. Di samping itu, bagian akhir hadis menjadi peringatan agar setiap muslim menjaga keistiqamahan dalam beramal, karena yang menjadi ukuran adalah akhir kehidupan (husnul khatimah).

Dari sudut pandang sains, hadis ini menunjukkan bahwa perkembangan embrio berlangsung melalui tahapan yang berurutan, sebagaimana dijelaskan dalam embriologi modern. Ilmu kedokteran membuktikan bahwa setelah pembuahan, embrio mengalami fase implantasi pada dinding rahim, berkembang menjadi jaringan yang menyerupai gumpalan, kemudian terbentuk organ-organ tubuh secara bertahap. Meskipun terdapat perbedaan penafsiran ulama mengenai rincian durasi setiap fase dibandingkan dengan temuan embriologi modern, kesesuaian mengenai adanya proses perkembangan yang bertingkat menunjukkan bahwa penciptaan manusia tidak terjadi secara instan, melainkan melalui tahapan yang teratur sesuai sunnatullah. Hal ini memperlihatkan keselarasan antara petunjuk wahyu dengan fakta ilmiah tentang perkembangan manusia di dalam rahim, sekaligus mengingatkan bahwa di balik proses biologis tersebut terdapat kehendak dan ketetapan Allah sebagai Pencipta kehidupan.1


[1] The Developing Human: Clinically Oriented Embryology, Keith L. Moore, T. V. N. Persaud, and Mark G. Torchia (Philadelphia: Elsevier, 2020).

Komentar 0