Hadis tentang Tujuh Lapis Bumi
Hadis
Terjemah Hadis
Hadis dari Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa pernah terjadi
perselisihan antara dirinya dengan orang lain terkait masalah tanah, lalu ia
menemui Aisyah r.a. dan menceritakan hal tersebut kepadanya. Aisyah kemudian
berkata, Wahai Abu Salamah, hindarilah (persengketaan) tanah tersebut,
karena sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda: 'Barangsiapa yang berbuat
zalim (mengambil hak orang lain) meski hanya sejengkal tanah, niscaya tanah
tersebut akan dikalungkan kepadanya dari tujuh lapis bumi.
Kandungan Hadis

Hadis-hadis Nabi saw. tentang
ancaman bagi orang yang menyerobot tanah orang lain tidak hanya menegaskan
larangan berbuat zalim, tetapi juga memuat isyarat tentang adanya "tujuh
bumi". Larangan tersebut sejalan dengan firman Allah Swt. dalam Surah
Ibrahim ayat 42–47 yang menjelaskan bahwa Allah tidak akan membiarkan kezaliman
tanpa balasan dan akan mengadili seluruh manusia pada hari kiamat.[1]
Di antara berbagai bentuk
kezaliman, penyerobotan hak milik orang lain, khususnya tanah, mendapat
perhatian khusus dalam hadis. Rasulullah saw. menyatakan bahwa orang yang
mengambil tanah secara zalim akan dibebani dengan tanah tersebut hingga tujuh
bumi pada hari kiamat. Hadis ini mendorong para ulama untuk mengkaji makna
ungkapan "tujuh bumi" yang disebutkan Nabi.
Ilmu kebumian modern menunjukkan
bahwa bumi memiliki struktur berlapis yang tersusun atas kerak bumi, mantel
atas, mantel bawah, inti luar, dan inti dalam, dengan beberapa pembagian
tambahan berdasarkan sifat fisiknya. Setiap lapisan memiliki karakteristik,
komposisi, dan fungsi yang berbeda sehingga membentuk sistem bumi yang utuh.
Sebagian mufasir memandang bahwa
penyebutan tujuh bumi dalam Al-Qur'an dan hadis dapat dipahami sebagai isyarat
terhadap keberlapisan bumi. Namun, hubungan antara konsep "tujuh
bumi" dalam nash keagamaan dan pembagian lapisan bumi dalam geologi
merupakan wilayah penafsiran, bukan kesimpulan ilmiah yang telah dibuktikan
secara pasti.
Pemahaman tersebut dikaitkan
dengan hadis Nabi yang menyebutkan bahwa orang yang menyerobot tanah akan
ditenggelamkan hingga tujuh bumi. Dalam pandangan para ulama, ungkapan ini
menggambarkan beratnya dosa kezaliman sekaligus memberi isyarat bahwa bumi memiliki
susunan yang bertingkat.
Al-Qur'an juga menyebutkan bahwa
Allah menciptakan tujuh langit dan bumi yang serupa dengannya.
"Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi." (QS. Ath-Thalaq [65]: 12).
Selain itu, Allah berfirman:
Para mufasir menjelaskan bahwa kata thibaqan menunjukkan susunan yang saling melapisi dan teratur. Penjelasan ini dipahami sebagai gambaran keteraturan ciptaan Allah, bukan uraian teknis mengenai struktur alam semesta sebagaimana dijelaskan dalam ilmu astronomi modern.
Ulama tafsir seperti Al-Biqa'i
menjelaskan bahwa langit diciptakan dalam susunan yang saling mengelilingi
sesuai kehendak Allah. Penjelasan tersebut merupakan bagian dari penafsiran
terhadap ayat-ayat Al-Qur'an dan menunjukkan bagaimana para ulama memahami
kosmologi berdasarkan ilmu yang tersedia pada zamannya.
Al-Qur'an juga berulang kali
menyebut adanya langit, bumi, dan segala sesuatu yang berada di antara
keduanya. Hal ini menunjukkan bahwa alam semesta merupakan ciptaan Allah yang
tersusun dengan penuh keteraturan dan keseimbangan.
Bagi kaum muslimin, penyebutan tujuh bumi dan tujuh langit menjadi bagian dari perkara gaib yang diyakini berdasarkan wahyu. Sementara itu, ilmu pengetahuan terus berupaya mengungkap struktur dan mekanisme alam melalui penelitian.
Oleh karena itu, kajian ilmiah dan penafsiran keagamaan perlu dipahami sesuai dengan ruang lingkup masing-masing, sehingga keduanya dapat saling memperkaya tanpa dipertentangkan.

Komentar 0