40 HADIS SAINS

KTI

أهــــلًا وسهــــلًا

Ketika banyak orang menaruh perhatian besar pada sains dan teknologi, dialog yang menghubungkan keimanan dengan pengetahuan dapat membuka ruang yang lebih luas untuk memahami ajaran Islam secara rasional sekaligus spiritual. Aplikasi ini yang diberi dengan nama "40 Hadis Sains" mengulas berbagai hadis Nabi ﷺ tentang fenomena alam, fenomena biologis, kesehatan, dan lainnya yang menghubungkan dengan temuan ilmiah modern. Semakin berkembang ilmu pengetahuan, semakin tampak keluasan ilmu Allah dan kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW. Cocok bagi siapa saja yang ingin memperkuat keimanan sekaligus mengasah cara berpikir kritis dan ilmiah.

Foto Zayid Abdurrahman

Tentang Penulis

Zayid Abdurrahman

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS SAINS

Penyusun: Zayid Abdurrahman

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Tujuh Lapis Bumi

Disusun oleh: Zayid Abdurrahman (@zayieed) · Bagian dari 40 HADIS SAINS

Hadis

عَنْ أَبِى سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أُنَاسٍ خُصُومَةٌ فِى أَرْضٍ ، فَدَخَلَ عَلَى عَائِشَةَ فَذَكَرَ لَهَا ذَلِكَ ، فَقَالَتْ يَا أَبَا سَلَمَةَ اجْتَنِبِ الأَرْضَ ، فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ مَنْ ظَلَمَ قِيدَ شِبْرٍ طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ (رواه البخاري: ٣١٩٥)

Terjemah Hadis

Hadis dari Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa pernah terjadi perselisihan antara dirinya dengan orang lain terkait masalah tanah, lalu ia menemui Aisyah r.a. dan menceritakan hal tersebut kepadanya. Aisyah kemudian berkata, Wahai Abu Salamah, hindarilah (persengketaan) tanah tersebut, karena sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda: 'Barangsiapa yang berbuat zalim (mengambil hak orang lain) meski hanya sejengkal tanah, niscaya tanah tersebut akan dikalungkan kepadanya dari tujuh lapis bumi.

Kandungan Hadis

Hadis tentang Tujuh Lapis Bumi

Hadis-hadis Nabi saw. tentang ancaman bagi orang yang menyerobot tanah orang lain tidak hanya menegaskan larangan berbuat zalim, tetapi juga memuat isyarat tentang adanya "tujuh bumi". Larangan tersebut sejalan dengan firman Allah Swt. dalam Surah Ibrahim ayat 42–47 yang menjelaskan bahwa Allah tidak akan membiarkan kezaliman tanpa balasan dan akan mengadili seluruh manusia pada hari kiamat.[1]

Di antara berbagai bentuk kezaliman, penyerobotan hak milik orang lain, khususnya tanah, mendapat perhatian khusus dalam hadis. Rasulullah saw. menyatakan bahwa orang yang mengambil tanah secara zalim akan dibebani dengan tanah tersebut hingga tujuh bumi pada hari kiamat. Hadis ini mendorong para ulama untuk mengkaji makna ungkapan "tujuh bumi" yang disebutkan Nabi.

Ilmu kebumian modern menunjukkan bahwa bumi memiliki struktur berlapis yang tersusun atas kerak bumi, mantel atas, mantel bawah, inti luar, dan inti dalam, dengan beberapa pembagian tambahan berdasarkan sifat fisiknya. Setiap lapisan memiliki karakteristik, komposisi, dan fungsi yang berbeda sehingga membentuk sistem bumi yang utuh.

Sebagian mufasir memandang bahwa penyebutan tujuh bumi dalam Al-Qur'an dan hadis dapat dipahami sebagai isyarat terhadap keberlapisan bumi. Namun, hubungan antara konsep "tujuh bumi" dalam nash keagamaan dan pembagian lapisan bumi dalam geologi merupakan wilayah penafsiran, bukan kesimpulan ilmiah yang telah dibuktikan secara pasti.

Pemahaman tersebut dikaitkan dengan hadis Nabi yang menyebutkan bahwa orang yang menyerobot tanah akan ditenggelamkan hingga tujuh bumi. Dalam pandangan para ulama, ungkapan ini menggambarkan beratnya dosa kezaliman sekaligus memberi isyarat bahwa bumi memiliki susunan yang bertingkat.

Al-Qur'an juga menyebutkan bahwa Allah menciptakan tujuh langit dan bumi yang serupa dengannya.

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ

"Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi." (QS. Ath-Thalaq [65]: 12).

Selain itu, Allah berfirman:

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا
"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis." (QS. Al-Mulk [67]: 3)

Para mufasir menjelaskan bahwa kata thibaqan menunjukkan susunan yang saling melapisi dan teratur. Penjelasan ini dipahami sebagai gambaran keteraturan ciptaan Allah, bukan uraian teknis mengenai struktur alam semesta sebagaimana dijelaskan dalam ilmu astronomi modern.

Ulama tafsir seperti Al-Biqa'i menjelaskan bahwa langit diciptakan dalam susunan yang saling mengelilingi sesuai kehendak Allah. Penjelasan tersebut merupakan bagian dari penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur'an dan menunjukkan bagaimana para ulama memahami kosmologi berdasarkan ilmu yang tersedia pada zamannya.

Al-Qur'an juga berulang kali menyebut adanya langit, bumi, dan segala sesuatu yang berada di antara keduanya. Hal ini menunjukkan bahwa alam semesta merupakan ciptaan Allah yang tersusun dengan penuh keteraturan dan keseimbangan.

Bagi kaum muslimin, penyebutan tujuh bumi dan tujuh langit menjadi bagian dari perkara gaib yang diyakini berdasarkan wahyu. Sementara itu, ilmu pengetahuan terus berupaya mengungkap struktur dan mekanisme alam melalui penelitian. 

Oleh karena itu, kajian ilmiah dan penafsiran keagamaan perlu dipahami sesuai dengan ruang lingkup masing-masing, sehingga keduanya dapat saling memperkaya tanpa dipertentangkan.



[1] Tafsir Ibnu Katsir, penafsiran QS. Ibrahim

Komentar 0