Teks Hadis
عَنْ عَامِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ « الْحَلاَلُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ ، وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، فَمَنِ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِيِنِهِ وَعِرْضِهِ ، وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى ، يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ . أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى ، أَلاَ إِنَّ حِمَى اللَّهِ فِى أَرْضِهِ مَحَارِمُهُ ، أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ »(البخاري: ٥٢)
Terjemah Hadis
Hadis dari Amir, ia berkata: Aku mendengar An-Nu’man bin Basyir berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat (samar/ragu-ragu) yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barangsiapa yang menjauhi perkara syubhat, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang jatuh ke dalam perkara syubhat, maka ia seperti seorang penggembala yang menggembala di sekitar kawasan terlarang, yang dikhawatirkan ia akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah, setiap raja memiliki kawasan terlarang. Ketahuilah, kawasan terlarang Allah di bumi-Nya adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh tersebut. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh tersebut. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.'"
Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa Islam telah menetapkan batas yang tegas antara perkara halal dan haram, sementara di antara keduanya terdapat perkara syubhat yang hukumnya belum jelas bagi kebanyakan orang. , Sikap yang dianjurkan adalah menjauhi perkara syubhat sebagai bentuk kehati-hatian (wara') agar agama dan kehormatan tetap terjaga. Hadis ini juga menegaskan pentingnya menjaga hati, karena hati merupakan pusat niat, keimanan, dan pengendali perilaku. Apabila hati dipenuhi keimanan dan ketakwaan, maka ucapan, sikap, dan perbuatan seseorang akan cenderung baik. Sebaliknya, rusaknya hati akan tercermin dalam buruknya perilaku seseorang.
Dari perspektif sains, hubungan antara hati, dalam makna spiritual sebagai pusat pengendali diri, dan perilaku manusia dapat dipahami melalui fungsi otak serta sistem saraf yang mengatur emosi, pengambilan keputusan, dan pengendalian diri. Penelitian dalam bidang psikologi dan neurosains menunjukkan bahwa kondisi mental dan emosional yang sehat berpengaruh terhadap perilaku, kesehatan fisik, serta kualitas hidup seseorang. Selain itu, penelitian dalam bidang psychoneuroimmunology juga menunjukkan bahwa stres, emosi negatif, dan kondisi psikologis dapat memengaruhi fungsi sistem saraf, hormon, dan kekebalan tubuh. Dengan demikian, pesan hadis ini selaras dengan temuan ilmiah bahwa pembinaan batin, pengendalian diri, dan kebersihan hati memiliki peran penting dalam membentuk perilaku sekaligus menjaga kesehatan secara menyeluruh.
Komentar 0