Teks Hadis
حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - يَقُولُ قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - أَوْ قَالَ قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ - صلى الله عليه وسلم - « صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ ، فَإِنْ غُبِّىَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ »(البخاري: ١٩٠٩)
Terjemah Hadis
"Telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ziyad, ia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah —semoga Allah meridhainya— berkata: Nabi ﷺ bersabda, atau ia (Abu Hurairah) berkata: Abul Qasim ﷺ bersabda: 'Berpuasalah kalian karena melihat hilal (bulan sabit), dan berbukalah (berhari raya) karena melihat hilal. Jika hilal tersebut tertutup mendung bagi kalian, maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya'ban menjadi tiga puluh hari.'
Kandungan Hadis
Hadis ini menegaskan bahwa penetapan awal dan akhir bulan Ramadan didasarkan pada rukyat, yaitu melihat hilal, atau dengan menyempurnakan hitungan bulan menjadi tiga puluh hari apabila hilal tidak terlihat karena tertutup mendung. Hadis ini menunjukkan kemudahan syariat Islam dalam menentukan waktu ibadah. Rasulullah ﷺ memberikan pedoman yang dapat diterapkan oleh seluruh umat sesuai kemampuan mereka, sehingga pelaksanaan puasa dan Idulfitri memiliki dasar yang jelas serta menghindarkan umat dari dugaan atau perkiraan yang tidak pasti.
Dari perspektif sains, hadis ini selaras dengan ilmu astronomi yang menjelaskan bahwa fase bulan terjadi akibat peredaran Bulan mengelilingi Bumi. Hilal merupakan fase awal bulan kamariah yang muncul setelah terjadinya konjungsi (ijtimak), sedangkan kemungkinan terlihat atau tidaknya hilal dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti posisi Bulan terhadap Matahari, umur Bulan, ketinggian hilal, kondisi atmosfer, dan cuaca. Oleh karena itu, apabila hilal tertutup mendung, penyempurnaan hitungan bulan menjadi tiga puluh hari merupakan solusi yang rasional dan sesuai dengan fenomena astronomi. Saat ini, ilmu falak modern juga memanfaatkan perhitungan astronomi (hisab) untuk memprediksi kemungkinan visibilitas hilal, yang kemudian dapat dipadukan dengan rukyat sesuai ketentuan yang berlaku di masing-masing negara.
International Astronomical Union,
Badan Riset dan Inovasi Nasional, kajian astronomi mengenai visibilitas hilal di Indonesia.
Komentar 0