Hadis tentang Kehalalan Memakan Biawak Padang Pasir (Dhab)
Hadis
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما قَالَ أَهْدَتْ أُمُّ حُفَيْدٍ خَالَةُ ابْنِ عَبَّاسٍ إِلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم أَقِطًا وَسَمْنًا وَأَضُبًّا ، فَأَكَلَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم مِنَ الأَقِطِ وَالسَّمْنِ ، وَتَرَكَ الضَّبَّ تَقَذُّرًا . قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَأُكِلَ عَلَى مَائِدَةِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، وَلَوْ كَانَ حَرَامًا مَا أُكِلَ عَلَى مَائِدَةِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم. (رواه البخاري: ٢٥٧٥ )[1]
Terjemahan
Hadis dari Ibnu Abbas menghadiahkan kepada Nabi SAW berupa keju kering, minyak samin, dan biawak (dhab). Maka Nabi memakan keju kering dan samin tersebut, tetapi Ia meninggalkan biawak karena merasa tidak menyukainya. Ibnu Abbas berkata: Biawak itu dimakan di atas meja Rasulullah dan seandainya ia haram, tentu tidak akan dimakan di hadapan Rasulullah SAW. (HR al-Bukhari: 2575)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan tentang hukum makanan tertentu, khususnya biawak padang pasir (dhab). Dalam hadis ini diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah disuguhkan makanan berupa keju kering, minyak samin, dan biawak. Ia memakan keju dan samin, tetapi tidak memakan biawak karena tidak menyukainya, bukan karena mengharamkannya.
Referensi
- Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, al-Jami’ al-Musnad al-Shahih al-Mukhtasar Min Umur Rasulillah Sallallahu ’Alaihi wa Sallam wa Sunanihi wa Ayyamih, Juz 9, h. 323.

Komentar 0