Hadis tentang Memberi Pilihan Kepada Istri untuk Ditalak atau Tetap Bersama
Hadis
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ خَيَّرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاخْتَرْنَاهُ أَفَكَانَ طَلَاقًا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي الضُّحَى عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ بِمِثْلِهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَاخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي الْخِيَارِ فَرُوِيَ عَنْ عُمَرَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّهُمَا قَالَا إِنْ اخْتَارَتْ نَفْسَهَا فَوَاحِدَةٌ بَائِنَةٌ وَرُوِيَ عَنْهُمَا أَنَّهُمَا قَالَا أَيْضًا وَاحِدَةٌ يَمْلِكُ الرَّجْعَةَ وَإِنْ اخْتَارَتْ زَوْجَهَا فَلَا شَيْءَ وَرُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ أَنَّهُ قَالَ إِنْ اخْتَارَتْ نَفْسَهَا فَوَاحِدَةٌ بَائِنَةٌ وَإِنْ اخْتَارَتْ زَوْجَهَا فَوَاحِدَةٌ يَمْلِكُ الرَّجْعَةَ و قَالَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ إِنْ اخْتَارَتْ زَوْجَهَا فَوَاحِدَةٌ وَإِنْ اخْتَارَتْ نَفْسَهَا فَثَلَاثٌ وَذَهَبَ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالْفِقْهِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ فِي هَذَا الْبَابِ إِلَى قَوْلِ عُمَرَ وَعَبْدِ اللَّهِ وَهُوَ قَوْلُ الثَّوْرِيِّ وَأَهْلِ الْكُوفَةِ وَأَمَّا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ فَذَهَبَ إِلَى قَوْلِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ.(رواه الترمذي: ١٢١٤)[1]
Terjemahan
Hadis dari Aisyah berkata: "Rasulullah SAW menyuruh kami memilih, maka kami (para istri Nabi SAW) tetap memilih beliau. Apakah itu merupakan talak?" Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami, Sufyan dari al-A'masy telah menceritakan kepada kami dari Abu Adl-Dluha dari Masruq dari Aisyah seperti di atas. Abu Isa berkata: "Ini merupakan hadits hasan sahih. Para ulama berselisih pendapat dalam masalah khiyar. Diriwayatkan dari Umar dan Abdullah bin Mas'ud, keduanya berkata: jika dia memilih dirinya maka itu termasuk talak ba`in. Diriwayatkan dari keduanya, berkata: itu adalah talak satu dan masih bisa rujuk. Jika dia memilih suaminya, maka itu tidak dianggap talak. Diriwayatkan dari Ali, dia berkata: jika dia memilih untuk bercerai maka hukumnya adalah talak tiga. Jika dia memilih kembali ke suami maka hukumnya adalah talak satu. Zaid bin Tsabit berkata: jika dia memilih suaminya, hukumnya adalah talak satu. Jika dia memilih talak maka hukumnya adalah talak tiga. Kebanyakan ulama dan fuqaha` dari kalangan sahabat Nabi SAW dan setelah mereka pada masalah ini mengikuti pendapat Umar dan Abdullah. Ini pendapat Ats-Tsauri dan penduduk Kufah. Ahmad bin Hanbal mengikuti pendapat Ali RA. (HR al-Tirmidzi: 1214).
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan tentang hukum khiyār, yaitu ketika suami memberikan pilihan kepada istrinya untuk tetap bersama atau berpisah. Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW pernah memberikan pilihan kepada para istrinya, namun mereka tetap memilih beliau, dan hal itu tidak dianggap sebagai talak. Hadis ini menunjukkan bahwa memberikan pilihan kepada istri tidak otomatis menyebabkan perceraian, tetapi tergantung pada pilihan dan niat yang ada. Selain itu, hadis ini juga memperlihatkan adanya perbedaan pendapat para sahabat dan ulama mengenai hukum khiyār, baik apakah termasuk talak satu, talak ba’in, atau tidak dianggap talak sama sekali. Perbedaan ini menunjukkan keluasan ijtihad dalam fikih Islam serta pentingnya memahami hukum talak dengan hati-hati agar tidak salah dalam menetapkan hukum rumah tangga.
Referensi
- Abu `Isa Muhammad bin `Isa bin Saurah at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, (Riyadh: Maktabah al-Ma’arif, 1420 H/2000 M), Juz 5, h. 37.

Komentar 0