40 HADIS HARI JUMAT

KTI

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Selamat Datang di Aplikasi 40 Hadis Hari Jumat, silakan telusuri aplikasi ini untuk menemukan beragam ilmu yang bermanfaat.

Foto Bobi

Tentang Penulis

Bobi

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS HARI JUMAT

Penyusun: Bobi

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Awal Mula Penambahan Adzan Jumat

Disusun oleh: Bobi (@Bobi) · Bagian dari 40 HADIS HARI JUMAT

Hadis

عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ: «كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الجُمُعَةِ أَوَّلُهُ إِذَا جَلَسَ الإِمَامُ عَلَى المِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا. فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -وَكَثُرَ النَّاسُ- زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ: ٩١٢)[١]

Terjemahan

Hadis dari as-Sa’ib bin Yazid, ia berkata: Dahulu seruan azan pada hari Jumat permulaannya adalah apabila imam telah duduk di atas mimbar; hal itu berlaku pada masa Nabi SAW, Abu Bakar, dan Umar RA. Namun ketika masa Utsman RA dan orang-orang sudah bertambah banyak, beliau menambah seruan azan ketiga di az-Zaura'. (HR. Bukhari: 912)

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini menjelaskan sejarah pelaksanaan azan Jumat pada masa Rasulullah SAW, Abu Bakar, dan Umar bin Khattab, yaitu azan dikumandangkan ketika imam telah duduk di atas mimbar untuk memulai khutbah. Ketika jumlah penduduk Madinah semakin banyak pada masa Khalifah Utsman bin Affan, beliau menambahkan satu azan lagi agar masyarakat memiliki waktu yang cukup untuk bersiap menuju masjid. Hadis ini menunjukkan bahwa para sahabat melakukan penyesuaian dalam urusan administrasi dan kemaslahatan umat tanpa mengubah prinsip dasar ibadah. Dari sini dapat dipahami bahwa Islam memberikan ruang bagi kebijakan yang bertujuan memudahkan pelaksanaan syariat.

Referensi

  1. Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Beirut: Dar al-Fikr, 2006), Juz 1, h. 220.


Komentar 0