40 HADIS HARI JUMAT

KTI

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Selamat Datang di Aplikasi 40 Hadis Hari Jumat, silakan telusuri aplikasi ini untuk menemukan beragam ilmu yang bermanfaat.

Foto Bobi

Tentang Penulis

Bobi

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS HARI JUMAT

Penyusun: Bobi

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Doa Meminta Hujan saat Khutbah Jumat

Disusun oleh: Bobi (@Bobi) · Bagian dari 40 HADIS HARI JUMAT

Hadis

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِذْ قَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَ الْكُرَاعُ وَهَلَكَ الشَّاءُ، فَادْعُ اللَّهَ أَنْ يَسْقِيَنَا. فَمَدَّ يَدَيْهِ وَدَعَا (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ: ٩٣٢)[١]

Terjemahan

Hadis dari Anas, ia berkata: Ketika Nabi SAW sedang menyampaikan khutbah pada hari Jumat, tiba-tiba seorang laki-laki berdiri lalu berkata: 'Wahai Rasulullah, hewan ternak (kuda/unta) telah binasa dan kambing-kambing pun telah mati karena kekeringan. Maka berdoalah kepada Allah agar Dia menurunkan hujan kepada kami.' Lalu Nabi SAW mengangkat membentangkan kedua tangannya dan berdoa. (HR. Bukhari: 932)

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini menceritakan peristiwa ketika seorang sahabat meminta Rasulullah SAW berdoa agar Allah menurunkan hujan karena terjadi kekeringan yang menyebabkan banyak hewan ternak mati. Rasulullah SAW kemudian mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Allah di tengah khutbah Jumat. Allah mengabulkan doa tersebut dengan menurunkan hujan sebagai bentuk rahmat-Nya kepada kaum Muslimin. Hadis ini menunjukkan bahwa hari Jumat merupakan waktu yang penuh keberkahan dan bahwa doa yang dipanjatkan dengan ikhlas memiliki peluang besar untuk dikabulkan. Selain itu, hadis ini juga mengajarkan pentingnya bergantung kepada Allah dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup.

Referensi

  1. Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Beirut: Dar al-Fikr, 2006), Juz 1, h. 225.

Komentar 0