Hadis tentang Thawaf Qudum bagi yang baru tiba di Makkah
Hadis
عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ لَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَكَّةَ طَافَ بِالْبَيْتِ سَبْعًا ثُمَّ صَلَّى خَلْفَ الْمَقَامِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّفَا مِنْ الْبَابِ الَّذِي يُخْرَجُ مِنْهُ فَطَافَ بِالصَّفَا وَالْمَرْوَةِ (رواه النسائي: ٢٩٦٦) [1]
Terjemahan
Dari 'Amr bin Dinar, ia berkata: saya mendengar Ibnu Umar berkata: tatkala Rasulullah SAW datang ke Mekkah beliau melakukan thawaf di Ka'bah tujuh kali, kemudian melakukan shalat di belakang Maqam dua rakaat, lalu berangkat ke Shafa melalui pintu keluar maqam Ibrahim, dan melakukan thawaf di Shafa-Marwah .” (HR al-Nasa’i: 2966)
Isi Kadungan Hadis
Hadis ini menggambarkan secara ringkas tata cara pelaksanaan ibadah umrah atau haji yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika pertama kali memasuki Makkah. Hadis ini menjadi salah satu dasar dalam penjelasan manasik haji dan umrah.Rasulullah SAW memulai dengan melakukan tawaf di Ka’bah sebanyak tujuh putaran. Tawaf ini merupakan bentuk pengagungan kepada Allah dengan mengelilingi Baitullah sebagai pusat ibadah umat Islam. Setelah selesai tawaf, beliau kemudian melaksanakan salat dua rakaat di belakang مقام إبراهيم (Maqam Ibrahim), yang merupakan sunnah dalam rangkaian tawaf.Setelah itu, Rasulullah SAW keluar menuju bukit Shafa melalui pintu tertentu, kemudian memulai rangkaian sa’i antara Shafa dan Marwah. Sa’i ini merupakan bagian dari ibadah yang mengingat perjuangan Hajar, istri Nabi Ibrahim, dalam mencari air untuk putranya Ismail.Hadis ini menunjukkan urutan amalan dalam manasik, yaitu dimulai dengan tawaf, kemudian salat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim, lalu dilanjutkan dengan sa’i antara Shafa dan Marwah. Ini menjadi pedoman bagi umat Islam dalam melaksanakan haji dan umrah agar sesuai dengan tuntunan Nabi SAW.Selain itu, hadis ini juga menunjukkan bahwa seluruh rangkaian ibadah haji dan umrah memiliki makna sejarah dan spiritual yang dalam, yang mengajarkan ketauhidan, kesabaran, dan kepatuhan kepada perintah Allah.
Referensi
- Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, no. 3082

Komentar 0