40 HADIS HAJI DAN UMRAH

KTI

Selamat Datang di Aplikasi 40 Hadis Haji dan Umrah

Silahkan telusuri aplikasi ini untuk menemukan beragam ilmu yang bermanfaat.

Tentang Penulis

Muhammad Rikfat

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

37 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS HAJI DAN UMRAH

Penyusun: Muhammad Rikfat

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Sunnah Mencium Hajar Aswad

Disusun oleh: Muhammad Rikfat (@Muhammad_Rikfat) · Bagian dari 40 HADIS HAJI DAN UMRAH

Hadis

عَنْ عُمَرَ - رضي الله عنه - أَنَّهُ جَاءَ إِلَى الْحَجَرِ الأَسْوَدِ فَقَبَّلَهُ ، فَقَالَ إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، وَلَوْلَا أَنِي رَأَيْتُ النَّبي - صلى الله عليه وسلم - يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ. (رواه البخاري: ١٥٩٧)[1]

Terjemahan

"Dari Umar RA bahwasanya ia mendatangi Hajar Aswad lalu menciumnya dan berkata: 'Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau hanyalah sebuah batu yang tidak dapat memberi mudharat maupun manfaat. Seandainya aku tidak melihat Nabi SAW menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu'." (HR al-Bukhari: 1597)

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini menjelaskan sikap Umar bin Khattab RA ketika mencium Hajar Aswad dalam ibadah tawaf. Beliau menegaskan bahwa perbuatannya tersebut semata-mata mengikuti sunnah Rasulullah SAW, bukan karena keyakinan bahwa batu tersebut memiliki kekuatan untuk memberi manfaat atau mudarat.Umar RA menyatakan dengan jelas bahwa Hajar Aswad hanyalah sebuah batu yang tidak bisa memberi manfaat maupun bahaya. Ucapan ini menunjukkan lurusnya aqidah beliau dalam menjaga kemurnian tauhid, agar tidak ada keyakinan yang mengarah pada pengagungan benda secara berlebihan.Namun demikian, beliau tetap mencium Hajar Aswad karena mengikuti apa yang dilakukan oleh Nabi SAW. Ini menunjukkan prinsip penting dalam Islam bahwa ibadah harus didasarkan pada dalil dan tuntunan Rasulullah SAW, bukan pada akal semata atau penilaian pribadi.Hadis ini juga mengajarkan keseimbangan antara akal dan wahyu. Akal dapat memahami bahwa batu tidak memiliki kekuatan, tetapi wahyu memerintahkan untuk melakukannya sebagai bentuk ketaatan dan ibadah kepada Allah. Oleh karena itu, mencium Hajar Aswad adalah bentuk ittiba’ (mengikuti sunnah), bukan pengagungan terhadap batu itu sendiri.Selain itu, hadis ini menunjukkan keteladanan Umar RA dalam menjaga kemurnian akidah umat Islam, agar tidak terjatuh dalam kesyirikan atau keyakinan yang salah dalam pelaksanaan ibadah haji.

Referesi

  1. Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 1597

Komentar 0