Hadis Tentang Bahaya Perkataan Keji
Hadis
عَنْ ئِشَةُ بْنُ سَعِيدٍ، وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ نُمَيْرٍ كُلُّهُمْ عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ، وَاللَّفْظُ لِزُهَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ وَهُوَ ابْنُ عُيَيْنَةَ - عَنِ ابْنِ الْمُنْكَدِرِ سَمِعَ عُرْوَةَ بْنَ الزُّبَيْرِ يَقُولُ حَدَّثَتْنِي عَائِشَةُ، أَنَّ رَجُلاً اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ فَقَالَ ائْذَنُوا لَهُ فَلَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ أَوْ بِئْسَ رَجُلُ الْعَشِيرَةِ فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ أَلاَنَ لَهُ الْقَوْلَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْتَ لَهُ الَّذِي قُلْتَ ثُمَّ أَلَنْتَ لَهُ الْقَوْلَ قَالَ " يَا عَائِشَةُ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ وَدَعَهُ أَوْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ وَرَوَاهُ مُسْلِمٌ(٢٥٩١)
Terjemahan
Dari Aisyah binti Abu Bakar RA , ia berkata: Seorang laki-laki meminta izin untuk menemui Nabi SAW Maka beliau bersabda, Izinkanlah dia masuk. Sungguh, dia adalah seburuk-buruk orang dalam kaumnya, atau beliau bersabda, Dia adalah seburuk-buruk lelaki dalam kaumnya. Ketika orang itu masuk, Nabi berbicara kepadanya dengan lemah lembut dan ramah.Maka Aisyah binti Abu Bakar berkata RA , Wahai Rasulullah SAW , tadi engkau mengatakan tentang dirinya apa yang telah engkau katakan, tetapi ketika ia masuk engkau berbicara dengan lembut kepadanya. Beliau bersabda: Wahai Aisyah, sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah orang yang dijauhi atau ditinggalkan oleh manusia karena takut terhadap kekasaran dan keburukan lisannya.(HR Muslim No 2591)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini mengajarkan pentingnya menjaga akhlak, terutama dalam bertutur kata dan berinteraksi dengan sesama. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang yang memiliki ucapan kasar, menyakitkan, dan perilaku buruk akan dijauhi oleh orang lain karena mereka khawatir terhadap gangguan yang ditimbulkannya. Keadaan tersebut menunjukkan buruknya akhlak seseorang dan menjadi sebab rendahnya kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat.
Hadis ini juga menunjukkan kebijaksanaan Rasulullah dalam berdakwah dan bermuamalah. Meskipun beliau mengetahui buruknya perangai seseorang, beliau tetap menyambutnya dengan tutur kata yang lembut. Sikap tersebut bukan berarti membenarkan keburukannya, melainkan sebagai bentuk kebijaksanaan untuk menghindari permusuhan dan menjaga kemaslahatan.Selain itu, hadis ini menegaskan bahwa seorang Muslim hendaknya memiliki akhlak yang mulia, berbicara dengan sopan, serta menghindari perkataan yang kasar atau menyakiti orang lain. Akhlak yang baik akan mendatangkan penghormatan dan kasih sayang dari sesama manusia, sedangkan akhlak yang buruk akan menyebabkan seseorang dijauhi oleh masyarakat dan mendapatkan celaan di sisi Allah Swt. Dengan demikian, hadis ini menjadi pedoman bagi setiap Muslim untuk senantiasa menjaga lisan, memperbaiki akhlak, dan bersikap bijaksana dalam bergaul dengan orang lain sehingga tercipta hubungan yang harmonis dan penuh kasih sayang.
Referensi
1.Sahih Muslim, Kitāb al-Birr wa al-Ṣilah wa al-Ādāb, Bab Mā yajūzu min ightiyāb ahl al-fasād wa al-rīb, hadis No. 2591.

Komentar 0