Hadis
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُوَضِّحُ أَنَّ اللِّسَانَ هُوَ الْمَصْدَرُ الرَّئِيسِيُّ لِلذُّنُوبِ حَيْثُ يُشَدِّدُ عَلَى ضَرُورَةِ قَوْلِ الْخَيْرِ أَوِ الصَّمْتِ لِلنَّجَاةِ وَالنَّدَمِ( رواه الطبراني) (١٢٠١)
Terjemahan
Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu Ra, dijelaskan bahwa lisan merupakan sumber utama terjadinya banyak dosa. Oleh karena itu, seseorang hendaknya menjaga lisannya dengan mengucapkan perkataan yang baik atau memilih diam, karena hal tersebut menjadi jalan keselamatan dan menghindarkan dari penyesalan. (HR. ath-Thabrani No. 1201)
Isi kandungan Hadis
Lisan merupakan sumber utama banyak dosa Banyak kesalahan manusia terjadi karena ucapan yang tidak terkendali, seperti berbohong, menggunjing ghibah, memfitnah, mengadu domba, mencaci maki, dan berkata kasar. Kewajiban menjaga lisan Seorang Muslim diperintahkan untuk berhati-hati dalam berbicara dan mempertimbangkan manfaat serta akibat dari setiap perkataan yang diucapkannya. Pentingnya berkata baik atau diam Hadis ini sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW yang memerintahkan umatnya untuk berkata baik atau memilih diam apabila tidak ada kebaikan dalam perkataannya. Ucapan mencerminkan kualitas keimanan
Lisan yang terjaga menunjukkan akhlak yang baik dan keimanan yang kuat, sedangkan lisan yang tidak terkendali dapat menjadi tanda lemahnya pengendalian diri. Dosa lisan sering dianggap remeh Banyak orang tidak menyadari bahwa dosa yang dilakukan melalui ucapan dapat membawa dampak besar, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.
Menjaga lisan merupakan jalan keselamatan Seseorang yang mampu mengendalikan lisannya akan lebih mudah terhindar dari perselisihan, permusuhan, dan berbagai bentuk dosa yang dapat merugikan dirinya di dunia dan akhirat. Anjuran untuk memperbanyak ucapan yang bermanfaat Lisan hendaknya digunakan untuk berdzikir, membaca Al-Qur’an, memberikan nasihat, menyebarkan ilmu, dan menyampaikan perkataan yang baik kepada sesama.
Pentingnya penyesalan dan taubat atas kesalahan lisan Apabila seseorang terlanjur melakukan kesalahan melalui ucapannya, ia harus segera bertaubat kepada Allah SWT dan meminta maaf kepada pihak yang dirugikan.
Referensi
1.Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, riwayat Abdullah bin Mas'ud; Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi, Syu'ab al-Iman; Muhammad Nasiruddin al-Albani, Shahih al-Jami' ash-Shaghir wa Ziyadatuh, Hadis No. 1201.
Komentar 0