Hadis tentang Balasan Allah bagi Hamba yang Berbuat Kebaikan
Hadis
عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ الْأَنْصَارَ كَانُوا قَبْلَ أَنْ يُسْلِمُوا هُمْ وَغَسَّانُ يُهِلُّونَ لِمَنَاةَ فَتَحَرَّجُوا أَنْ يَطُوفُوا بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَكَانَ ذَلِكَ سُنَّةً فِي آبَائِهِمْ مَنْ أَحْرَمَ لِمَنَاةَ لَمْ يَطُفْ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَإِنَّهُمْ سَأَلُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ حِينَ أَسْلَمُوا فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي ذَلِكَ { إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوْ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ }. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ: ٢٢٤٢)[1]
Terjemahan
Hadis ini dari Urwah bin Zubair bahwa ‘Aisyah telah mengabarkan kepadanya bahwa dahulu orang-orang Anshar sebelum memeluk Islam dan Bani Ghassan menyembah berhala Manat sehingga mereka merasa berdosa untuk thawaf antara Shafa dan Marwa, hal itu telah menjadi kebiasaan nenek moyang mereka bahwa siapa yang ihram untuk Manat maka ia tidak boleh thawaf antara Shafa dan Marwa, dan saat mereka masuk Islam mereka menanyakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Allah ‘azza wajalla menurunkan ayat mengenai hal itu: “Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah, maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-‘umrah maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya, dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (HR. Muslim 2242).
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa syariat Islam hadir untuk meluruskan tradisi yang bertentangan dengan ajaran tauhid. Sebelum memeluk Islam, sebagian kaum Anshar enggan melaksanakan sa'i antara Bukit Shafa dan Marwah karena masih dipengaruhi kebiasaan pada masa jahiliah yang berkaitan dengan penyembahan berhala Manat. Setelah mereka memeluk Islam, Allah SWT menurunkan ayat yang menegaskan bahwa Shafa dan Marwah merupakan bagian dari syiar Allah SWT. Dengan demikian, ibadah sa'i menjadi amalan yang disyariatkan dan tidak lagi dikaitkan dengan tradisi kemusyrikan yang pernah berkembang sebelumnya. Selain itu, firman Allah SWT, "Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui," menunjukkan bahwa Allah SWT memberikan penghargaan dan balasan yang sempurna kepada setiap hamba yang melakukan kebajikan dengan ikhlas. Makna Allah SWT Maha Mensyukuri bukanlah bahwa Allah SWT membutuhkan syukur, melainkan Dia menerima amal saleh, melipatgandakan pahalanya, dan memberikan ganjaran yang lebih baik kepada pelakunya. Oleh karena itu, hadis ini mengajarkan bahwa setiap ibadah yang dilaksanakan sesuai tuntunan syariat dan dilandasi keikhlasan akan memperoleh balasan dari Allah SWT. Seorang muslim juga hendaknya meninggalkan kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran Islam serta senantiasa bersemangat melakukan berbagai amal kebajikan sebagai wujud keimanan dan rasa syukur kepada-Nya.
Referensi
1. Abū al-Ḥusain Muslim bin al-Ḥajjāj al-Qusyairī al-Naisābūrī, Shahih Muslim (Mesir: Maktabah al-Shafā, 2004), Juz 3, h. 198.

Komentar 0