Hadis tentang Nabi Musa Berpuasa Sebagai Bentuk Ungkapan Syukur kepada Allah SWT
Hadis
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَصُومُونَهُ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ أَيُّوبَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ عَنْ ابْنِ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ لَمْ يُسَمِّهِ. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ: ١٩١١)[1]
Terjemahan
Hadis ini dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kota Madinah lalu beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura, maka beliau bertanya kepada mereka: “Hari apakah ini hingga kalian berpuasa?” Mereka menjawab: “Hari ini adalah hari yang agung, hari ketika Allah memenangkan Musa dan kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun serta kaumnya, karena itu Musa berpuasa pada hari itu untuk menyatakan syukur maka kami pun melakukannya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kami lebih berhak dan lebih pantas untuk memuliakan Musa daripada kalian,” kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan kaum untuk berpuasa pada hari itu. Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami, Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami, Ma’mar telah menceritakan kepada kami dari Ayyub dengan isnad ini hanya saja ia berkata: “Dari Ibnu Sa’id bin Jubair,” ia tidak menyebutkan namanya. (HR. Muslim 1911).
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini mengajarkan bahwa berpuasa merupakan salah satu bentuk ungkapan syukur kepada Allah SWT atas nikmat, pertolongan, dan keselamatan yang dianugerahkan-Nya. Nabi Musa a.s. berpuasa pada hari Asyura sebagai wujud rasa syukur karena Allah SWT telah menyelamatkan beliau beserta kaumnya dari kezaliman Fir'aun. Ketika Rasulullah SAW mengetahui hal tersebut, beliau menegaskan bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti ajaran Nabi Musa a.s. dalam perkara yang benar. Oleh karena itu, Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan menganjurkan umatnya untuk melaksanakan puasa tersebut sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Selain itu, hadis ini menunjukkan bahwa syukur hendaknya diwujudkan melalui amal ibadah yang sesuai dengan tuntunan syariat. Nikmat dan pertolongan Allah SWT tidak cukup hanya dikenang atau diucapkan, tetapi juga harus dibalas dengan ketaatan dan penghambaan kepada-Nya. Hadis ini juga menegaskan bahwa seluruh nabi membawa ajaran tauhid yang sama, sehingga umat Islam diperintahkan untuk menghormati dan meneladani mereka dalam menjalankan kebaikan. Dengan demikian, puasa Asyura menjadi salah satu bentuk syukur yang mengingatkan seorang muslim agar senantiasa mengenang nikmat Allah SWT, memperkuat keimanan, serta meningkatkan ketakwaan melalui amal saleh yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Referensi
1. Abū al-Ḥusain Muslim bin al-Ḥajjāj al-Qusyairī al-Naisābūrī, Shahih Muslim (Mesir: Maktabah al-Shafā, 2004), Juz 3, h. 151.

Komentar 0