Hadis tentang Pujian sebagai Bentuk Syukur Bagi Orang yang Tidak Mampu Memberi
Hadis
عَنْ جَابِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أُعْطِيَ عَطَاءً فَوَجَدَ فَلْيَجْزِ بِهِ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُثْنِ فَإِنَّ مَنْ أَثْنَى فَقَدْ شَكَرَ وَمَنْ كَتَمَ فَقَدْ كَفَرَ وَمَنْ تَحَلَّى بِمَا لَمْ يُعْطَهُ كَانَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَفِي الْبَاب عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ وَعَائِشَةَ وَمَعْنَى قَوْلِهِ وَمَنْ كَتَمَ فَقَدْ كَفَرَ يَقُولُ قَدْ كَفَرَ تِلْكَ النِّعْمَةَ. (رَوَاهُ التِّرْمِذِيِّ: ١٩٥٧)[1]
Terjemahan
Hadis dari Jabir dari Nabi SAW, ia bersabda: “Barangsiapa diberi suatu pemberian lalu dia memperoleh kelebihan harta maka hendaknya dia memberi, dan barang siapa tidak mendapatkan kelebihan harta hendaknya dia memuji, karena barang siapa yang memuji dia telah bersyukur dan barang siapa yang menyembunyikan nikmat berarti dia telah kufur nikmat, dan barang siapa yang bersikap (mengaku) dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya maka dia ibarat orang yang memakai dua buah baju kebohongan.” Abu Isa berkata: Ini merupakan hadits hasan gharib. Hadits semakna juga diriwayatkan dari Asma’ binti Abu Bakar dan ‘Aisyah. (HR. Tirmidzi 1957).
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa syukur dapat diwujudkan sesuai dengan kemampuan setiap orang. Seseorang yang memperoleh kelapangan rezeki dianjurkan untuk membalas kebaikan dengan memberi atau membantu orang lain. Adapun orang yang belum mampu membalas dengan harta tetap dapat menunjukkan rasa syukur melalui pujian, ucapan terima kasih, dan doa yang tulus kepada orang yang telah berbuat baik kepadanya. Selain itu, hadis ini mengingatkan agar seseorang tidak mengingkari atau menyembunyikan nikmat yang telah Allah SWT anugerahkan, karena hal tersebut termasuk bentuk kufur nikmat. Hadis ini juga melarang seseorang mengaku memiliki kelebihan, kedudukan, atau nikmat yang sebenarnya tidak dimilikinya, sebab sikap tersebut merupakan bentuk kebohongan dan kesombongan. Dengan demikian, seorang muslim hendaknya senantiasa bersikap jujur, menghargai setiap kebaikan, serta menampakkan rasa syukur melalui ucapan, perbuatan, dan pemanfaatan nikmat sesuai dengan tuntunan syariat.
Referensi
1. Abū ‘Īsā Muḥammad bin ‘Īsā al-Tirmiżī, Sunan al-Tirmiżī (Beirut: Dār al-Gharb al-Islāmī, 1998), Juz 3, h. 401.

Komentar 0