Hadis tentang Syukur dan Kufur dalam Menyikapi Peristiwa
Hadis
حَدَّثَنِي ابْنُ عَبَّاسٍ قَالَ مُطِرَ النَّاسُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصْبَحَ مِنْ النَّاسِ شَاكِرٌ وَمِنْهُمْ كَافِرٌ قَالُوا هَذِهِ رَحْمَةُ اللَّهِ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَقَدْ صَدَقَ نَوْءُ كَذَا وَكَذَا قَالَ فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ {فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ حَتَّى بَلَغَ وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ}. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ: ١٠٧)[1]
Terjemahan
Hadis ini dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, manusia pernah dituruni hujan. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Dengan turunnya hujan ini, sebagian manusia menjadi hamba yang bersyukur dan sebagian lainnya menjadi kufur. Sebagian mereka berkata, ‘Hujan ini turun karena rahmat Allah,’ sedangkan sebagian yang lain berkata, ‘Bintang ini dan itu telah benar.’’ Lalu Allah menurunkan firman-Nya: ‘Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang’ hingga firman-Nya: ‘Dan kamu menjadikan rezeki yang Allah berikan kepadamu sebagai alasan untuk mendustakan-Nya.’” (HR. Muslim 107).
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini mengajarkan bahwa setiap nikmat yang diterima manusia, termasuk turunnya hujan, berasal dari Allah SWT. Hujan merupakan rahmat dan rezeki yang diberikan-Nya untuk menopang kehidupan seluruh makhluk. Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya menyandarkan segala nikmat kepada Allah SWT sebagai Pemberi karunia. Mengakui bahwa hujan turun karena kehendak dan rahmat Allah SWT merupakan wujud keimanan dan rasa syukur, sedangkan menyandarkan nikmat tersebut kepada selain Allah SWT sebagai penyebab yang berdiri sendiri merupakan sikap yang bertentangan dengan tauhid. Selain itu, hadis ini menegaskan bahwa syukur tidak hanya diwujudkan melalui ucapan, tetapi juga melalui keyakinan yang benar terhadap sumber segala nikmat. Seorang muslim hendaknya meyakini bahwa segala sebab yang ada di alam semesta hanya dapat memberikan manfaat dengan izin Allah SWT. Kesadaran ini akan melahirkan sikap rendah hati, memperkuat keimanan, serta mendorong seseorang untuk senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah SWT atas setiap karunia yang diterimanya. Dengan demikian, hadis ini menjadi pengingat agar setiap nikmat dikembalikan kepada Allah SWT sebagai Zat Yang Maha Pemberi rezeki dan rahmat, sehingga syukur yang diwujudkan benar-benar bernilai ibadah di sisi-Nya.
Referensi
1. Abū al-Ḥusain Muslim bin al-Ḥajjāj al-Qusyairī al-Naisābūrī, Shahih Muslim (Mesir: Maktabah al-Shafā, 2004), Juz 1, h. 156.

Komentar 0