Hadis tentang Wasiat Nabi untuk Menjaga Dzikir dan Syukur Sepanjang Hidup
Hadis
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِهِ وَقَالَ يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فَقَالَ أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ وَأَوْصَى بِذَلِكَ مُعَاذٌ الصُّنَابِحِيَّ وَأَوْصَى بِهِ الصُّنَابِحِيُّ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ. (رَوَاهُ أَبِي دَاوُدَ: ١٣٠١)[1]
Terjemahan
Hadis ini dari Mu’adz bin Jabal bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandeng tangannya lalu berkata: “Wahai Mu’adz, demi Allah aku mencintaimu, demi Allah aku mencintaimu.” Kemudian beliau berkata: “Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu’adz, janganlah engkau tinggalkan setiap selesai shalat untuk mengucapkan: ‘Allaahumma A’innii ‘Alaa Dzikrika Wa Syukrika Wa Husni ‘Ibaadatik’ (Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir dan bersyukur kepada-Mu serta beribadah kepada-Mu dengan baik).” Mu’adz mewasiatkan hal tersebut kepada Ash Shunabihi dan Ash Shunabihi mewasiatkan hal tersebut kepada Abdurrahman. (HR. Abu Daud 1301).
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini mengajarkan bahwa zikir, syukur, dan ibadah yang baik merupakan tiga amalan yang saling berkaitan dalam kehidupan seorang muslim. Rasulullah SAW secara khusus mewasiatkan kepada Mu'adz bin Jabal r.a. agar senantiasa membaca doa setelah setiap salat, yang berisi permohonan kepada Allah SWT agar diberi pertolongan untuk selalu mengingat-Nya, bersyukur atas segala nikmat-Nya, dan mampu beribadah dengan sebaik-baiknya. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk bersyukur dan beribadah bukan hanya bergantung pada usaha manusia, tetapi juga merupakan taufik dan pertolongan dari Allah SWT yang harus senantiasa dimohonkan. Selain itu, hadis ini memperlihatkan kelembutan dan kasih sayang Rasulullah SAW dalam mendidik para sahabat. Sebelum menyampaikan nasihat, beliau terlebih dahulu mengungkapkan rasa cintanya kepada Mu'adz bin Jabal, sehingga nasihat tersebut diterima dengan penuh ketulusan dan menjadi wasiat yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, hadis ini mengajarkan bahwa syukur hendaknya diwujudkan melalui doa, zikir, dan ibadah yang istiqamah, sekaligus menanamkan kesadaran bahwa seorang muslim harus selalu memohon pertolongan Allah SWT agar mampu menjalankan seluruh bentuk ketaatan dengan ikhlas dan sempurna.
Referensi
1. Abū Dāwūd Sulaimān bin al-Asy‘ats al-Sijistānī, Sunan Abī Dāwūd (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996), Juz 2, h. 86.

Komentar 0