Hadis tentang Berterima Kasih Sesama Manusia Bukti Syukur kepada Allah SWT
Hadis
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ لَا يَشْكُرُ اللَّه قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. (رَوَاهُ التِّرْمِذِيِّ: ١٨٧٧)[1]
Terjemahan
Hadis dari Abu
Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “siapa
yang tidak pandai bersyukur (berterima kasih) kepada manusia, berarti ia belum
bersyukur kepada Allah.” Abu Isa berkata: Ini adalah hadits hasan shahih. (HR. Tirmidzi
1877).
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa rasa syukur kepada Allah SWT tidak hanya diwujudkan melalui ucapan dan ibadah, tetapi juga melalui sikap menghargai kebaikan orang lain. Mengucapkan terima kasih kepada sesama merupakan bentuk akhlak mulia yang mencerminkan kesadaran bahwa segala nikmat berasal dari Allah SWT, meskipun sering kali disampaikan melalui perantara manusia. Seseorang yang terbiasa mengabaikan jasa dan kebaikan orang lain menunjukkan kurangnya kesempurnaan dalam mensyukuri nikmat Allah SWT. Oleh karena itu, Islam menganjurkan umatnya untuk membalas kebaikan dengan ucapan terima kasih, doa, atau perbuatan baik sesuai dengan kemampuan. Sikap tersebut akan mempererat hubungan antarsesama, menumbuhkan rasa saling menghargai, serta membentuk pribadi yang rendah hati dan penuh syukur kepada Allah SWT.
Referensi
1. Abū ‘Īsā Muḥammad bin ‘Īsā al-Tirmiżī, Sunan al-Tirmiżī (Beirut: Dār al-Gharb al-Islāmī, 1998), Juz 3, h. 398.

Komentar 0