Hadis tentang Membandingkan Diri dengan yang Lebih Rendah dapat Menumbuhkan Rasa Syukur
Hadis
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَدْتِ اللُّحُوقَ بِي فَلْيَكْفِكِ مِنْ الدُّنْيَا كَزَادِ الرَّاكِبِ وَإِيَّاكِ وَمُجَالَسَةَ الْأَغْنِيَاءِ وَلَا تَسْتَخْلِقِي ثَوْبًا حَتَّى تُرَقِّعِيهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ صَالِحِ بْنِ حَسَّانَ قَالَ و سَمِعْت مُحَمَّدًا يَقُولُ صَالِحُ بْنُ حَسَّانَ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ وَصَالِحُ بْنُ أَبِي حَسَّانَ الَّذِي رَوَى عَنْهُ ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ ثِقَةٌ قَالَ أَبُو عِيسَى وَمَعْنَى قَوْلِهِ وَإِيَّاكِ وَمُجَالَسَةَ الْأَغْنِيَاءِ عَلَى نَحْوِ مَا رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ رَأَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْخَلْقِ وَالرِّزْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ مِمَّنْ فُضِّلَ هُوَ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا يَزْدَرِيَ نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ وَيُرْوَى عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ قَالَ صَحِبْتُ الْأَغْنِيَاءَ فَلَمْ أَرَ أَحَدًا أَكْبَرَ هَمًّا مِنِّي أَرَى دَابَّةً خَيْرًا مِنْ دَابَّتِي وَثَوْبًا خَيْرًا مِنْ ثَوْبِي وَصَحِبْتُ الْفُقَرَاءَ فَاسْتَرَحْتُ. (رَوَاهُ التِّرْمِذِيِّ: ١٧٠٢)[1]
Terjemahan
Hadis ini dari ‘Aisyah radliyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepadaku: “Jika engkau ingin bersamaku atau sederajat denganku di surga maka ambillah bekal dari dunia seperti bekalnya seorang musafir dan janganlah engkau bergaul dengan orang-orang kaya serta janganlah engkau menganggap bajumu sudah lusuh sebelum engkau menambalnya.” Abu Isa berkata: Ini merupakan hadits gharib yang tidak kami ketahui kecuali dari haditsnya Shalih bin Hassan, dan aku mendengar Muhammad berkata: “Shalih bin Hassan seorang munkarul hadits adapun Shalih bin Abi Hassan yang mana Ibnu Abi Dzuaib meriwayatkan darinya ialah seorang yang tsiqqah.” Abu Isa berkata: Dan arti dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “dan janganlah kamu bergaul dengan orang-orang kaya” ialah sebagaimana dalam riwayatnya Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barang siapa yang melihat orang yang dilebihkan darinya dari segi rupa dan rezeki maka hendaknya dia melihat orang yang lebih kurang darinya atas nikmat yang dilebihkan atasnya baik dari segi rupa atau rezeki karena hal itu akan mendorongnya untuk selalu mensyukuri nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepadanya.” Diriwayatkan dari ‘Aun bin Abdullah berkata: “Aku telah bergaul dengan orang-orang kaya maka aku tidak melihat ada orang yang lebih memiliki kemauan daripada aku, bersama mereka aku melihat ada onta yang lebih bagus dari ontaku dan aku melihat baju yang lebih bagus dari bajuku, lalu aku bergaul dengan para faqir dan hatiku menjadi tenang.” (HR. Tirmidzi 1702).
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini mengajarkan pentingnya hidup sederhana, tidak berlebihan dalam mencintai dunia, dan senantiasa merasa cukup dengan nikmat yang telah Allah SWT berikan. Rasulullah SAW menasihati Aisyah r.a. agar menjadikan dunia seperti bekal seorang musafir, yaitu secukupnya untuk mencapai tujuan, tanpa menjadikannya sebagai tujuan utama kehidupan. Beliau juga menganjurkan agar seseorang tidak mudah tergoda oleh kemewahan dunia serta membiasakan hidup hemat dan tidak boros, sebagaimana dicontohkan dengan tetap memanfaatkan pakaian yang masih layak digunakan meskipun telah ditambal. Sikap ini mencerminkan qanaah, kesederhanaan, dan rasa syukur atas setiap nikmat yang dimiliki. Selain itu, hadis ini mengingatkan agar seseorang tidak terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang yang lebih kaya atau lebih berkecukupan dalam urusan dunia. Kebiasaan tersebut dapat menumbuhkan rasa tidak puas, iri hati, dan meremehkan nikmat yang telah Allah SWT anugerahkan. Sebaliknya, melihat orang yang memiliki keadaan hidup lebih sederhana akan membantu seseorang menyadari besarnya karunia yang telah diterimanya sehingga lebih mudah bersyukur. Oleh karena itu, hadis ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak diukur dari banyaknya harta, melainkan dari hati yang qanaah, sederhana, dan senantiasa memuji Allah SWT atas segala nikmat yang diberikan-Nya. Sikap demikian akan melahirkan ketenangan jiwa, memperkuat rasa syukur, dan menjauhkan seseorang dari sifat tamak serta kecintaan yang berlebihan terhadap dunia.
Referensi
1. Abū ‘Īsā Muḥammad bin ‘Īsā al-Tirmiżī, Sunan al-Tirmiżī (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996), Juz 4, h. 579.

Komentar 0