Hadis tentang Mengungkapkan Nikmat Sebagai Bentuk Syukur
Hadis
عَنْ جَابِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أُبْلِيَ بَلَاءً فَذَكَرَهُ فَقَدْ شَكَرَهُ وَإِنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ. (رَوَاهُ أَبِي دَاوُدَ: ٤١٨٠)[1]
Terjemahan
Hadis ini dari Jabir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Siapa yang diuji dengan suatu ujian lalu ia mengingatnya berarti ia telah bersyukur, namun jika ia menyembunyikannya berarti ia telah mengkufurinya.” (HR. Abu Daud 4180).
Isi kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa mengungkapkan nikmat atau karunia yang diberikan Allah SWT dengan cara yang baik merupakan salah satu bentuk syukur. Seseorang yang menyebut dan mengingat nikmat tersebut berarti ia mengakui bahwa semua kebaikan berasal dari Allah SWT, sedangkan menyembunyikan nikmat dengan mengingkarinya termasuk bentuk kufur nikmat. Ini adalah ajaran Islam yang menanamkan kesadaran untuk menghargai setiap karunia Allah SWT, menampakkannya secara wajar tanpa kesombongan, serta membiasakan diri bersyukur atas segala nikmat yang diterima.
Referensi
1. Abū Dāwud Sulaimān bin al-Asy‘ats al-Sijistānī, Sunan Abī Dāwud (Beirut: Dār al-Fikr, 1994), Juz 4, h. 354.

Komentar 0