40 HADIS SYUKUR

KTI

Selamat Datang di Aplikasi 40 Hadis tentang Syukur

Aplikasi 40 Hadis tentang Syukur menyajikan kumpulan hadis pilihan mengenai syukur kepada Allah SWT. Aplikasi ini membantu pengguna memahami keutamaan, manfaat, dan cara menerapkan sikap syukur dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan tuntunan Rasulullah SAW.

Tentang Penulis

M. Farhan Maulana

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS SYUKUR

Penyusun: M. Farhan Maulana

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Meneladani Para Nabi dalam Bersyukur kepada Allah SWT

Disusun oleh: M. Farhan Maulana (@Farhan) · Bagian dari 40 HADIS SYUKUR

Hadis

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي دَعْوَةٍ فَرُفِعَ إِلَيْهِ الذِّرَاعُ وَكَانَتْ تُعْجِبُهُ فَنَهَسَ مِنْهَا نَهْسَةً وَقَالَ أَنَا سَيِّدُ الْقَوْمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ هَلْ تَدْرُونَ بِمَ يَجْمَعُ اللَّهُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَيُبْصِرُهُمْ النَّاظِرُ وَيُسْمِعُهُمْ الدَّاعِي وَتَدْنُو مِنْهُمْ الشَّمْسُ فَيَقُولُ بَعْضُ النَّاسِ أَلَا تَرَوْنَ إِلَى مَا أَنْتُمْ فِيهِ إِلَى مَا بَلَغَكُمْ أَلَا تَنْظُرُونَ إِلَى مَنْ يَشْفَعُ لَكُمْ إِلَى رَبِّكُمْ فَيَقُولُ بَعْضُ النَّاسِ أَبُوكُمْ آدَمُ فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُونَ يَا آدَمُ أَنْتَ أَبُو الْبَشَرِ خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيكَ مِنْ رُوحِهِ وَأَمَرَ الْمَلَائِكَةَ فَسَجَدُوا لَكَ وَأَسْكَنَكَ الْجَنَّةَ أَلَا تَشْفَعُ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلَا تَرَى مَا نَحْنُ فِيهِ وَمَا بَلَغَنَا فَيَقُولُ رَبِّي غَضِبَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ وَلَا يَغْضَبُ بَعْدَهُ مِثْلَهُ وَنَهَانِي عَنْ الشَّجَرَةِ فَعَصَيْتُهُ نَفْسِي نَفْسِي اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِي اذْهَبُوا إِلَى نُوحٍ فَيَأْتُونَ نُوحًا فَيَقُولُونَ يَا نُوحُ أَنْتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ وَسَمَّاكَ اللَّهُ عَبْدًا شَكُورًا أَمَا تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ أَلَا تَرَى إِلَى مَا بَلَغَنَا أَلَا تَشْفَعُ لَنَا إِلَى رَبِّكَ فَيَقُولُ رَبِّي غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ وَلَا يَغْضَبُ بَعْدَهُ مِثْلَهُ نَفْسِي نَفْسِي ائْتُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَأْتُونِي فَأَسْجُدُ تَحْتَ الْعَرْشِ فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ وَسَلْ تُعْطَهْ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ لَا أَحْفَظُ سَائِرَهُ  .(رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ: ٣٠٩٢)[1]

Terjemahan

Hadis ini dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam jamuan makan walimah (resepsi pernikahan), kemudian dihidangkan kepada beliau sepotong paha kambing yang mengundang selera beliau maka beliau memakannya dengan cara menggigitnya lalu bersabda: “Aku adalah penghulu kaum (manusia) pada hari kiamat. Mengertikah kalian tatkala Allah mengumpulkan manusia dari yang pertama (diciptakan) hingga yang terakhir pada satu bukit, kemudian mereka dijadikan menatap oleh seorang juru pandang dan dijadikan mendengar oleh seorang juru seru dan matahari didekatkan. Kemudian sebagian orang berkata: ‘Mungkin kalian punya saran karena nasib kalian sekarang? Tidakkah kalian punya pandangan siapa yang dapat memintakan syafa’at kepada Rabb kalian?’ Maka sebagian orang berkata: ‘Bapak kalian, Adam.’ Maka mereka menemui Adam dan berkata: ‘Wahai Adam, kamu adalah bapak seluruh manusia. Allah menciptakan kamu langsung dengan tangan-Nya dan meniupkan langsung ruh-Nya kepadamu dan memerintahkan para malaikat untuk sujud kepadamu dan menempatkan kamu tinggal di surga, tidakkah sebaiknya kamu memohon syafa’at kepada Rabbmu untuk kami? Tidakkah kamu melihat apa yang sedang kami hadapi?’ Adam menjawab: ‘Rabbku pernah marah kepadaku dengan suatu kemarahan yang belum pernah Dia marah seperti itu sebelumnya dan tidak akan pula marah seperti itu sesudahnya. Dia melarang aku mendekati pohon namun aku mendurhakai-Nya. Oh diriku, oh diriku. Pergilah kalian kepada orang selain aku. Pergilah kepada Nuh!’ Maka mereka menemui Nuh dan berkata: ‘Wahai Nuh, kamulah Rasul pertama kepada penduduk bumi ini dan Allah menamakan dirimu sebagai “Abdan syakuura (hamba yang bersyukur). Tidakkah kamu melihat apa yang sedang kami hadapi? Tidakkah sebaiknya kamu memohon syafa’at kepada Rabbmu untuk kami?’ Maka Nuh berkata: ‘Pada suatu hari Rabbku pernah marah kepadaku dengan suatu kemarahan yang belum pernah Dia marah seperti itu sebelumnya dan tidak akan pula marah seperti itu sesudahnya. Oh diriku, oh diriku. Pergilah kalian kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam!’ Maka mereka menemui aku, kemudian aku sujud di bawah Al-‘Arsy lalu dikatakan: ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu dan mohonkanlah syafa’at serta mintalah karena permintaan kamu akan dikabulkan.’” Muhammad bin ‘Ubaid berkata: “Aku tidak hafal seluruh isi hadits ini.” (HR. Bukhari 3092).

Isi Kandungan Hadis

Hadis ini menjelaskan bahwa sifat syukur merupakan salah satu akhlak mulia yang mendapat pujian dari Allah SWT. Dalam hadis ini, Nabi Nuh a.s. disebut sebagai hamba yang bersyukur, menunjukkan bahwa rasa syukur bukan sekadar ucapan, tetapi tercermin dalam keimanan, ketaatan, dan kesungguhan seorang hamba dalam menjalankan perintah Allah SWT. Oleh karena itu, syukur merupakan sifat yang dapat mengangkat derajat seseorang di sisi Allah SWT dan menjadi teladan bagi setiap muslim. Selain itu, hadis ini mengajarkan bahwa amal saleh dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT lahir dari keikhlasan dalam beribadah dan kesempurnaan rasa syukur kepada-Nya. Seorang muslim hendaknya senantiasa memuji Allah SWT atas setiap nikmat yang diterima, memanfaatkannya dalam kebaikan, serta menjadikan syukur sebagai bagian dari akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, syukur tidak hanya mendatangkan keberkahan di dunia, tetapi juga menjadi bekal yang berharga untuk memperoleh rahmat dan pertolongan Allah SWT pada hari akhir.

Referensi

1. Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin Ismā‘īl al-Bukhārī, Shahih al-Bukhārī (Beirut: Dār al-Fikr, 2006), Juz 6, h. 157.

Komentar 0