Hadis tentang Penerapan Syukur Melalui Ibadah dalam Kehidupan Rasulullah SAW
Hadis
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُومُ مِنْ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا فَلَمَّا كَثُرَ لَحْمُهُ صَلَّى جَالِسًا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَقَرَأَ ثُمَّ رَكَعَ. (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ: ٤٤٦٠)[1]
Terjemahan
Hadis dari ‘Aisyah RA bahwa Nabi SAW melaksanakan shalat malam hingga kaki beliau bengkak-bengkak. ‘Aisyah berkata: “Wahai Rasulullah, kenapa Anda melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosa Anda yang telah berlalu dan yang akan datang?” ia bersabda: “Apakah aku tidak suka jika menjadi hamba yang bersyukur?” Dan tatkala beliau gemuk, beliau shalat sambil duduk, apabila beliau hendak ruku’ maka beliau berdiri kemudian membaca beberapa ayat lalu ruku’. (HR. Bukhari 4460).
Isi Kandungan hadis
Hadis ini menjelaskan bahwa rasa syukur kepada Allah SWT tidak cukup diwujudkan melalui ucapan, tetapi juga melalui ibadah yang dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Meskipun Rasulullah SAW telah memperoleh jaminan ampunan dari Allah SWT, beliau tetap memperbanyak shalat malam sebagai bentuk penghambaan dan ungkapan syukur atas segala nikmat yang telah dikaruniakan. Hal ini menjadi teladan bahwa semakin besar nikmat yang diterima, semakin besar pula semangat seorang hamba untuk beribadah kepada Allah SWT.
Selain itu, hadis ini mengajarkan bahwa ibadah yang dilakukan dengan niat bersyukur akan semakin mendekatkan seorang hamba kepada Allah SWT. Sikap Rasulullah SAW juga menunjukkan bahwa rasa syukur mendorong seseorang untuk istiqamah dalam beramal saleh sesuai dengan kemampuannya. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya menjadikan ibadah sebagai wujud syukur atas nikmat Allah SWT, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, sehat maupun sakit, dengan tetap menjaga keikhlasan dan mengharapkan rida-Nya.
Referensi
1. Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin Ismā‘īl al-Bukhārī, Shahih al-Bukhārī (Beirut: Dār al-Fikr, 2006), Juz 8, h. 472.

Komentar 0