40 HADIS SYUKUR

KTI

Selamat Datang di Aplikasi 40 Hadis tentang Syukur

Aplikasi 40 Hadis tentang Syukur menyajikan kumpulan hadis pilihan mengenai syukur kepada Allah SWT. Aplikasi ini membantu pengguna memahami keutamaan, manfaat, dan cara menerapkan sikap syukur dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan tuntunan Rasulullah SAW.

Tentang Penulis

M. Farhan Maulana

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS SYUKUR

Penyusun: M. Farhan Maulana

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Pandai Beryukur Sederajat dengan Puasa dan Sabar

Disusun oleh: M. Farhan Maulana (@Farhan) · Bagian dari 40 HADIS SYUKUR

Hadis

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الطَّاعِمُ الشَّاكِرُ بِمَنْزِلَةِ الصَّائِمِ الصَّابِرِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ .(رَوَاهُ التِّرْمِذِيِّ: ٢٤١٠)[1]

Terjemahan

Hadis ini dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Orang yang makan dan pandai bersyukur seperti derajat orang yang berpuasa dan penyabar.” Abu Isa berkata: Hadits ini hasan gharib. (HR. Tirmidzi 2410).

Isi Kandungan hadis

Hadis ini menjelaskan bahwa orang yang menikmati makanan dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT memiliki kedudukan yang mulia, bahkan disamakan dengan orang yang berpuasa dan bersabar. Hal ini menunjukkan bahwa dalam Islam, nilai suatu amal tidak hanya ditentukan oleh bentuk perbuatannya, tetapi juga oleh keikhlasan hati dan rasa syukur kepada Allah SWT atas setiap nikmat yang diterima. Oleh karena itu, setiap muslim dianjurkan untuk selalu mengingat bahwa seluruh rezeki yang diperolehnya berasal dari Allah SWT sehingga wajib disyukuri dengan ucapan, hati, dan perbuatan. Selain itu, hadis ini mengajarkan bahwa syukur merupakan salah satu akhlak mulia yang dapat meningkatkan derajat seorang hamba di sisi Allah SWT. Rasa syukur tidak hanya diwujudkan dengan mengucapkan hamdalah, tetapi juga dengan memanfaatkan nikmat sesuai dengan ketentuan syariat dan tidak menggunakannya untuk kemaksiatan. Di sisi lain, kesabaran dalam menjalankan ibadah, seperti berpuasa, juga memiliki kedudukan yang tinggi. Dengan demikian, seorang muslim hendaknya senantiasa membiasakan diri untuk bersyukur atas setiap nikmat yang diterima dan bersabar dalam menghadapi berbagai keadaan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.

Referensi

1. Abū ‘Īsā Muḥammad bin ‘Īsā al-Tirmiżī, Sunan al-Tirmiżī (Beirut: Dār al-Gharb al-Islāmī, 1998), Juz 4, h. 305.

Komentar 0