Hadis tentang Dua Jenis Hijrah
Hadis
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْهِجْرَةِ أَفْضَلُ قَالَ أَنْ تَهْجُرَ مَا كَرِهَ رَبُّكَ عَزَّ وَجَلَّ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْهِجْرَةُ هِجْرَتَانِ هِجْرَةُ الْحَاضِرِ وَهِجْرَةُ الْبَادِي فَأَمَّا الْبَادِي فَيُجِيبُ إِذَا دُعِيَ وَيُطِيعُ إِذَا أُمِرَ وَأَمَّا الْحَاضِرُ فَهُوَ أَعْظَمُهُمَا بَلِيَّةً وَأَعْظَمُهُمَا أَجْرًا. (رواه النسائي: ٤١٧٦)[١]
Terjemahan
Hadis dari `Abdullah ibn `Amr, yang berkata: seorang laki-laki bertanya, "wahai Rasulullah, hijrah manakah yang terbaik?" Rasulallah menjawab, "yaitu meninggalkan apa yang tidak disukai Tuhanmu, yang maha perkasa dan maha Agung." Nabi SAW bersabda: “ada dua jenis hijrah: hijrah kaum yang menetap dan hijrah kaum Badui. Adapun kaum Badui, mereka menanggapi ketika dipanggil dan taat ketika diperintahkan. Adapun kaum yang menetap, merekalah yang mengalami kesulitan terbesar dan menerima pahala terbesar”. (HR al-Nasa’i: 4176)
Isi Kandungan Hadis
Dalam hadis ini, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa hijrah terbagi menjadi dua macam, yaitu hijrah kaum Badui dan hijrah kaum yang menetap (hadir). Kaum Badui yang berhijrah dituntut untuk memenuhi panggilan agama dan menaati perintah yang diberikan kepada mereka. Ketaatan dan kepatuhan mereka menjadi bukti kesungguhan dalam menjalankan ajaran Islam. Sementara itu, kaum yang menetap menghadapi ujian dan tantangan yang lebih besar karena mereka hidup di tengah masyarakat serta harus mempertahankan keimanan dan ketaatan dalam berbagai kondisi yang lebih kompleks. Rasulullah SAW menegaskan bahwa hijrah kaum yang menetap memiliki cobaan yang lebih berat sekaligus pahala yang lebih besar. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar pengorbanan dan kesulitan yang dihadapi seseorang dalam mempertahankan keimanan dan menjalankan perintah Allah, maka semakin besar pula ganjaran yang akan diterimanya. Oleh karena itu, hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi merupakan proses perjuangan yang menuntut kesabaran, keteguhan hati, dan komitmen untuk terus berada di jalan yang diridhai Allah.
Referensi
- Imam al-Hafiz Abi Abdurrahman Ahmad bin Syua’ib bin Ali Al-Khurasani An-Nasai, Sunan An-Nasai, Bab 5, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1971), h. 162.

Komentar 0