Hadis tentang Teladan Kesabaran Nabi Musa As
Hadis
عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا كَانَ يَوْمُ حُنَيْنٍ آثَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُنَاسًا فِي الْقِسْمَةِ فَأَعْطَى الْأَقْرَعَ بْنَ حَابِسٍ مِائَةً مِنْ الْإِبِلِ وَأَعْطَى عُيَيْنَةَ مِثْلَ ذَلِكَ وَأَعْطَى أُنَاسًا مِنْ أَشْرَافِ الْعَرَبِ فَآثَرَهُمْ يَوْمَئِذٍ فِي الْقِسْمَةِ قَالَ رَجُلٌ وَاللَّهِ إِنَّ هَذِهِ الْقِسْمَةَ مَا عُدِلَ فِيهَا وَمَا أُرِيدَ بِهَا وَجْهُ اللَّهِ فَقُلْتُ وَاللَّهِ لَأُخْبِرَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْتُهُ فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ فَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ يَعْدِلْ اللَّهُ وَرَسُولُهُ رَحِمَ اللَّهُ مُوسَى قَدْ أُوذِيَ بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ (رواه البخاري: ٢٩١٧)[1]
Terjemahan
Hadis ini, dari Abdullah R.A, berkata: pada saat terjadi perang Hunain, Nabi Muhammad SAW’mengutamakan sebagian orang dalam pembagian (harta). Beliau memberi Al-Aqra’ bin Habis seratus ekor unta, dan memberi ‘Uyainah sebanyak itu pula, serta memberi beberapa tokoh terkemuka dari kalangan Arab, sehingga pada hari itu beliau mengutamakan mereka dalam pembagian.Lalu seseorang berkata,demi Allah, pembagian ini tidak adil dan tidak dimaksudkan untuk mencari ridha Allah.Maka aku berkata, demi Allah, sungguh aku akan memberitahukan hal ini kepada Nabi SAW’ lalu aku mendatanginya dan memberitahukannya.Maka ia bersabda, Lalu siapa yang akan berlaku adil jika Allah dan Rasul-Nya tidak berlaku adil? semoga Allah merahmati Nabi Musa, sungguh ia telah disakiti dengan yang lebih dari ini, namun ia tetap bersabar. (HRAl-Bukhari: 2917)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan tentang kebijaksanaan Rasulullah SAW dalam membagikan harta rampasan perang setelah Perang Hunain. Nabi SAW memberikan bagian yang lebih banyak kepada beberapa tokoh Arab seperti Al-Aqra’ bin Habis dan ‘Uyainah bin Hisn sebagai bentuk strategi untuk melunakkan hati mereka agar semakin dekat kepada Islam. Namun, ada seseorang yang tidak memahami hikmah tersebut sehingga menuduh pembagian Nabi SAW tidak adil. Mendengar hal itu, Rasulullah SAW menegaskan bahwa tidak mungkin beliau berlaku zalim, karena segala tindakan beliau didasarkan pada petunjuk Allah dan demi kemaslahatan umat. Hadis ini menunjukkan pentingnya husnuzan kepada Rasulullah ﷺ dan para pemimpin yang adil, serta larangan tergesa-gesa menilai suatu keputusan tanpa memahami hikmahnya. Selain itu, Rasulullah SAW memberikan teladan kesabaran dengan mencontohkan Nabi Musa, yang tetap sabar meskipun menghadapi gangguan dan tuduhan yang lebih berat dari kaumnya. Dengan demikian, hadis ini mengajarkan tentang keadilan, hikmah dalam kepemimpinan, pentingnya menjaga lisan, dan keutamaan bersabar ketika menghadapi celaan atau perlakuan yang menyakitkan.
Referensi
- Abu ʿAbd Allah Muḥammad ibn Ismaʿīl al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Anbiyāʾ, Bāb Qawlullāh Taʿala: Wa Hal Ataka Ḥadithu Musa, hadis no. 3405

Komentar 0