Hadis tentang Sabar dalam Menghadapi Rasa Takut
Hadis
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ أَنَّهُ سَمِعَهُ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَامَ فِيهِمْ فَذَكَرَ لَهُمْ أَنَّ الْجِهَادَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْإِيمَانَ بِاللَّهِ أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ تُكَفَّرُ عَنِّي خَطَايَايَ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ إِنْ قُتِلْتَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ قُلْتَ قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَتُكَفَّرُ عَنِّي خَطَايَايَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ إِلَّا الدَّيْنَ فَإِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَام قَالَ لِي ذَلِكَ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَا حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا يَحْيَى يَعْنِي ابْنَ سَعِيدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِمَعْنَى حَدِيثِ اللَّيْثِ و حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ قَيْسٍ ح قَالَ وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَجْلَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ أَحَدُهُمَا عَلَى صَاحِبِهِ أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَقَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ ضَرَبْتُ بِسَيْفِي بِمَعْنَى حَدِيثِ الْمَقْبُرِيِّ (رواه مسلم ٣٤٩٧)[1]
Terjemahan
Hadis ini, dari Abu Qatadah, bahwa ia mendengarnya menceritakan dari Nabi Muhammad SAW’bahwa beliau berdiri di hadapan mereka lalu menyebutkan kepada mereka bahwa berjihad di jalan Allah dan beriman kepada Allah adalah amal yang paling utama.Kemudian seorang laki-laki berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan dihapus?” Maka Rasulullah SAW’bersabda, “Ya, jika engkau terbunuh di jalan Allah dalam keadaan sabar, mengharap pahala, maju (menghadapi musuh), dan tidak mundur.”Kemudian Rasulullah SAW’bersabda, “Bagaimana tadi engkau bertanya?” Ia berkata, “Bagaimana pendapatmu jika aku terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan dihapus?” Maka Rasulullah SAW’bersabda, “Ya, dalam keadaan engkau sabar, mengharap pahala, maju dan tidak mundur, kecuali utang. Sesungguhnya Jibril عليه السلام mengatakan hal itu kepadaku.”Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Muhammad bin Al-Mutsanna, keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami Yahya yaitu Ibnu Sa’id, dari Sa’id bin Abi Sa’id Al-Maqburi, dari Abdullah bin Abi Qatadah, dari ayahnya, ia berkata: seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW’lalu berkata, “Bagaimana pendapatmu jika aku terbunuh di jalan Allah,” dengan makna seperti hadis Laits.Dan telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Manshur, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Amr bin Dinar, dari Muhammad bin Qais. Dan diriwayatkan pula oleh Muhammad bin ‘Ajlan, dari Muhammad bin Qais, dari Abdullah bin Abi Qatadah, dari ayahnya, dari Nabi SAW’Salah satu dari keduanya menambahkan atas yang lainnya bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi SW’ketika beliau berada di atas mimbar, lalu berkata, “Bagaimana pendapatmu jika aku berperang dengan pedangku,” dengan makna seperti hadis Al-Maqburi. ( HR.Muslim: 3497)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan besarnya keutamaan berjihad di jalan Allah yang disertai dengan iman yang benar dan niat yang ikhlas. Rasulullah SAW menerangkan bahwa jihad di jalan Allah termasuk amal yang paling utama. Namun, keutamaan tersebut tidak hanya bergantung pada peperangan semata, melainkan harus disertai sifat sabar, mengharap pahala dari Allah, berani menghadapi musuh, dan tidak lari dari medan perjuangan. Hadis ini menunjukkan bahwa keikhlasan dan keteguhan hati menjadi syarat penting diterimanya amal di sisi Allah. Selain itu, Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang yang gugur di jalan Allah dapat dihapus dosa-dosanya, tetapi utang kepada manusia tetap menjadi tanggungan yang harus diselesaikan. Hal ini menunjukkan pentingnya menjaga hak sesama manusia, karena hak tersebut tidak gugur hanya dengan syahid. Penyebutan bahwa Malaikat Jibril عليه السلام menyampaikan hal itu kepada Rasulullah SAW juga menunjukkan besarnya perhatian Islam terhadap amanah dan tanggung jawab terhadap hak orang lain. Dengan demikian, hadis ini mengajarkan tentang keutamaan sabar, ikhlas, keberanian dalam kebenaran, serta pentingnya menunaikan kewajiban dan menjaga hak manusia.
Referensi
- Muslim ibn al-Hajjaj al-Naysaburi, Sahih Muslim, Kitāb al-Imarah, Bab Man Qutila fī Sabīlillāh Kufirat Lahu Khatayahu Illā al-Dayn, hadis no. 1885

Komentar 0