Hadis tentang Nabi dan Keturunannya tidak boleh memakan sedekah
Hadis
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤْتَى بِالتَّمْرِ عِنْدَ صِرَامِ النَّخْلِ، فَيَجِيءُ هَذَا بِتَمْرِهِ وَهَذَا مِنْ تَمْرِهِ حَتَّى يَصِيرَ عِنْدَهُ كَوْمًا مِنْ تَمْرٍ، فَجَعَلَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَلْعَبَانِ بِذَلِكَ التَّمْرِ، فَأَخَذَ أَحَدُهُمَا تَمْرَةً فَجَعَلَهَا فِي فِيهِ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْرَجَهَا مِنْ فِيهِ، فَقَالَ: «أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ آلَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَأْكُلُونَ الصَّدَقَةَ» (رواه البخاري: ١٤١٤)[1]
Terjemahan
Hadis dari Abu Hurairah RA, ia berkata: 'Rasulullah SAW biasanya dibawakan kurma saat panen kurma tiba. Seseorang datang membawa kurmanya dan yang lain juga membawa kurmanya hingga terkumpul tumpukan kurma di hadapan beliau. Lalu al-Hasan dan al-Husein RA bermain-main dengan tumpukan kurma tersebut. Salah satu dari keduanya mengambil sebutir kurma lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Rasulullah SAW melihatnya, kemudian beliau segera mengeluarkan kurma itu dari mulutnya seraya bersabda: 'Tidakkah engkau tahu bahwa keluarga Muhammad SAW tidak boleh makan harta sedekah?''(HR al- Bukhari:1414)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini mengandung makna yang sangat mendalam mengenai prinsip kehormatan dan integritas keluarga Nabi SAW dalam menjaga diri dari harta yang bukan hak mereka. Larangan bagi keluarga Nabi SAW untuk memakan harta sedekah (zakat wajib) bertujuan untuk menjaga kesucian nasab beliau agar tidak dianggap mengambil keuntungan materi dari dakwah yang disampaikan. Sedekah wajib dipandang sebagai "kotoran harta" manusia yang diberikan untuk membersihkan jiwa mereka, sehingga Allah memuliakan keluarga Rasulullah SAW dengan mengharamkan harta tersebut bagi mereka. Hal ini mengajarkan bahwa seorang pemimpin agama dan keluarganya harus menjadi teladan utama dalam sifat iffah (menjaga diri) dan menjauhkan diri dari syubhat serta potensi konflik kepentingan terkait dana umat.
Referensi
1.Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Al-Jami’ al-Musnad as-Shahih al-Mukhtasar Min Umur Rasulillah Sallallahu ’Alaihi Wa Sallam Wa Sunanih Wa Ayyamih, (Dar al- Kutub al-Ilmiah, 1981)h. 1414.

Komentar 0