Hadis tentang Sedekah yang Bernilai Dua Kebaikan
Hadis
عَنْ عَمِّهَا سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ فَإِنَّهُ بَرَكَةٌ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ تَمْرًا فَالْمَاءُ فَإِنَّهُ طَهُورٌ ». وَقَالَ « الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَهِىَ عَلَى ذِى الرَّحِمِ ثِنْتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ ». قَالَ وَفِى الْبَابِ عَنْ زَيْنَبَ امْرَأَةِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَجَابِرٍ وَأَبِى هُرَيْرَةَ. قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ. وَالرَّبَابُ هِىَ أُمُّ الرَّائِحِ بِنْتُ صُلَيْعٍ. وَهَكَذَا رَوَى سُفْيَانُ الثَّوْرِىُّ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ حَفْصَةَ بِنْتِ سِيرِينَ عَنِ الرَّبَابِ عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- نَحْوَ هَذَا الْحَدِيثِ. وَرَوَى شُعْبَةُ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ حَفْصَةَ بِنْتِ سِيرِينَ عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ. وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ عَنِ الرَّبَابِ. وَحَدِيثُ سُفْيَانَ الثَّوْرِىِّ وَابْنِ عُيَيْنَةَ أَصَحُّ. وَهَكَذَا رَوَى ابْنُ عَوْنٍ وَهِشَامُ بْنُ حَسَّانَ عَنْ حَفْصَةَ بِنْتِ سِيرِينَ عَنِ الرَّبَابِ عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ .( واه الترمذي: ٦٦٠)[1]
Terjemahan
Hadis dari pamannya yaitu Salman bin ‘Amir, sampai kepada Nabi SAW, beliau bersabda: 'Apabila salah seorang di antara kalian berbuka puasa, maka berbukalah dengan kurma karena ia mengandung berkah. Jika tidak menemukan kurma, maka berbukalah dengan air karena air itu mensucikan.' Dan beliau bersabda: 'Sedekah kepada orang miskin (hanya) bernilai sedekah, sedangkan sedekah kepada kerabat bernilai dua (pahala): pahala sedekah dan pahala silaturahmi.”(HR al-Tirmidzi : 660)
Isi Kandungan Hadis
hadis ini menjelaskan tentang strategi pahala dalam bersedekah. Nabi SAW menekankan bahwa sedekah yang diberikan kepada kaum kerabat (saudara, sepupu, atau keluarga dekat yang membutuhkan) memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan sedekah kepada orang asing. Alasannya adalah efisiensi amal: sedekah tersebut tidak hanya menutupi kebutuhan ekonomi si penerima (pahala sedekah), tetapi juga mempererat tali persaudaraan dan menghilangkan kedengkian antar anggota keluarga (pahala silaturahmi). Ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan penguatan fondasi keluarga sebagai unit terkecil masyarakat.
Referensi
1.Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah at-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi (Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1971). h.660

Komentar 0