Hadis tentang Larangan Sumpah Palsu agar Barang Dagangannya Laku
Hadis
عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ عَلِيِّ ابْنِ مُدْرِكٍ، عَنْ أَبِي زُرْعَةَ، عَنْ خَرَشَةَ بْنِ الْحُرِّ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ: عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ، وَلَا يُزَكِّيهِمْ، وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ». قَالَ: فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَ مِرَارٍ. قَالَ أَبُو ذَرٍّ: خَابُوا وَخَسِرُوا، مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الْمُسْبِلُ، وَالْمَنَّانُ، وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ (رواه مسلم: ١٧١)[1]
Terjemahan
Hadis dari Syu'bah dari Ali bin Mudrik dari Abu Zur'ah dari Kharasyah bin al-Hurr dari Abu Dzar dari Nabi SAW, beliau bersabda: "Tiga golongan manusia yang Allah tidak akan mengajak mereka bicara pada hari kiamat, tidak melihat mereka, tidak mensucikan dosanya dan mereka akan mendapatkan siksa yang pedih." Abu Dzar berkata lagi, "Rasulullah SAW membacanya tiga kali. Abu Dzar berkata: "Mereka gagal dan rugi, siapakah mereka wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Orang yang melakukan isbal (memanjangkan pakaian), orang yang suka memberi dengan menyebut-nyebutkannya (karena riya'), dan orang yang membuat lakubarang dagangan dengan sumpah palsu." (HR Muslim: 171)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini mengandung peringatan yang sangat keras mengenai dampak buruk dari perilaku sombong, ketidak ikhlasan dalam berbuat baik, dan kecurangan dalam perniagaan. Pesan utamanya menonjolkan tiga sikap negatif yang menyebabkan pelakunya mendapatkan pengabaian total dari Allah SWT pada hari kiamat sebuah bentuk hukuman psikologis dan spiritual yang amat berat sebelum mereka menerima siksaan fisik. Rasulullah SAW mengulang pernyataan ini hingga tiga kali untuk memberikan penekanan bahwa perbuatan-perbuatan tersebut bukanlah perkara ringan, melainkan pelanggaran serius terhadap hak Allah dan hak sesama manusia.
Perilaku pertama, yakni memanjangkan pakaian melebihi mata kaki dengan niat sombong (isbal), merupakan representasi dari kesombongan batin yang diekspresikan secara lahiriah. Kedua, sikap suka menyebut-nyebut pemberian atau kebaikan yang telah dilakukan (al-mannan) adalah bentuk racun dalam hubungan sosial yang merusak keikhlasan dan menyakiti perasaan orang lain. Ketiga, tindakan melariskan barang dagangan dengan sumpah palsu menunjukkan rusaknya integritas diri demi keuntungan duniawi yang sesaat, di mana nama Allah digunakan sebagai alat untuk menipu orang lain dalam transaksi.
Referensi
- Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi, Al-Musnad al-Shahih al-Mukhtasar Min as-Sunan bi Naql al-'Adl 'an al-'Adl Ila Rasulillah Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam, (Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1991). Juz 1. h. 102.

Komentar 0