40 HADIS ILMU

KTI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Selamat datang silahkan telusuri aplikasi ini, semoga bermanfaat dan menambah ilmu.

Foto Serni

Tentang Penulis

Serni

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS ILMU

Penyusun: Serni

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Bahaya Fatwa tanpa Ilmu

Disusun oleh: Serni (@serni25) · Bagian dari 40 HADIS ILMU

Hadis

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ «كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدِ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلاَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ. فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلاً بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ. وَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ. فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِى صُورَةِ آدَمِىٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ قِيسُوا مَا بَيْنَ الأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ. فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الأَرْضِ الَّتِى أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ». قَالَ قَتَادَةُ فَقَالَ الْحَسَنُ ذُكِرَ لَنَا أَنَّهُ لَمَّا أَتَاهُ الْمَوْتُ نَأَى بِصَدْرِهِ. (رواه مسلم: ٧١٨٤)[١]

Terjemahan

Hadis dari Abu Sa’id Al-Khudri RA bahwa Nabi SAW bersabda: di antara umat sebelum kalian ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa. Lalu ia bertanya tentang orang paling berilmu di bumi, maka ia ditunjukkan kepada seorang rahib (ahli ibadah). Ia pun mendatanginya dan berkata bahwa ia telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, apakah masih ada kesempatan baginya untuk bertaubat? Rahib itu menjawab: tidak. Maka ia pun membunuhnya hingga genap seratus jiwa. Kemudian ia kembali bertanya tentang orang paling berilmu di bumi, lalu ia ditunjukkan kepada seorang ulama. Ia berkata bahwa ia telah membunuh seratus jiwa, apakah masih ada taubat baginya? ulama itu menjawab: ya, dan siapa yang bisa menghalangi antara dia dan taubat? pergilah ke negeri ini dan itu, karena di sana ada orang-orang yang beribadah kepada Allah SWT, maka beribadahlah kepada Allah SWT bersama mereka, dan jangan kembali ke negerimu, karena itu adalah negeri yang buruk. Maka ia pun berangkat ketika di tengah perjalanan, ia didatangi oleh kematian. Lalu malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih tentangnya. Malaikat rahmat berkata: ia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah. Sedangkan malaikat azab berkata: ia belum pernah melakukan kebaikan sama sekali. Lalu datanglah seorang malaikat dalam bentuk manusia, kemudian mereka menjadikannya sebagai penengah. Ia berkata: ukurlah jarak antara dua negeri itu ke arah mana ia lebih dekat, maka itulah untuknya. Maka mereka mengukurnya, dan mereka mendapati ia lebih dekat ke negeri yang ia tuju (negeri orang-orang saleh). Maka malaikat rahmat pun mengambilnya (ruh-nya). Qatadah berkata: al-Hasan berkata: Diceritakan kepada kami bahwa ketika maut datang kepadanya, ia memiringkan dadanya (menuju negeri yang baik itu). (HR Muslim: 7184)

Isi Kandungan Hadis

Penjelasan ini menunjukkan bahwa pintu taubat selalu terbuka bagi siapa saja, selama ia benar-benar ingin kembali kepada Allah dengan sungguh-sungguh, meskipun dosa yang dilakukan sangat besar. Kisah ini juga menegaskan pentingnya mencari bimbingan dari orang yang berilmu, karena orang alim mampu memberikan jawaban yang benar dan penuh harapan, berbeda dengan orang yang hanya beribadah tanpa ilmu. Selain itu, lingkungan yang baik sangat berpengaruh dalam proses perubahan diri, sehingga seseorang dianjurkan untuk mendekati lingkungan yang mendukung kebaikan. Hal ini juga menggambarkan luasnya rahmat Allah yang menerima taubat hamba-Nya yang bersungguh-sungguh, bahkan ketika ia belum sempat melakukan banyak amal kebaikan.

Referensi

  1. Al-Imam Abu al-Husain bin al-Hajjaj al-Qusyairi an- Naisaburi, al-Jami’ al-Musnad as-Sahih al-Mukhtasar min as-Sunani bi Naql al-‘Adl ‘an al-‘Adl’an Rasulillah, (Dar al-Fikr, 2006), Jilid 8, h. 103.

Komentar 0