Hadis tentang Keluhuran Akhlak Rasulullah SAW dalam Bercanda
Hadis
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا وَكَانَ لِي أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو عُمَيْرٍ - قَالَ أَحْسِبُهُ قَالَ - كَانَ فَطِيمًا - قَالَ - فَكَانَ إِذَا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ فَرَآهُ قَالَ " أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ " . قَالَ فَكَانَ يَلْعَبُ بِهِ(رواه مسلم: ٢١٥٠)
Terjemahan
Hadis dari Anas bin Malik, yang berkata: Rasulullah SAW adalah manusia yang memiliki akhlak paling baik. Aku mempunyai seorang saudara laki-laki yang dipanggil Aba Umair. Anas berkata: aku mengira Aba Umair saat itu baru saja selesai disapih. Anas berkata: apabila Rasulullah SAW datang lalu melihat Aba Umair, Rasulullah SAW akan menyapa: "wahai Aba Umair, apa yang sedang dilakukan oleh nugair (burung kecil)?" Anas berkata: Aba Umair memang biasa bermain dengan burung kecil tersebut." (HR.Muslim: 2150)
Isi Kandungan Hadis
hadis ini menjelaskan tentang metode pendidikan karakter dan pendekatan psikologis yang sangat lembut dari Rasulullah SAW terhadap anak-anak. Melalui candaan ringan mengenai burung kecil (nugair), hadis ini membuktikan bahwa Rasulullah SAW selalu memosisikan diri sebagai sosok yang mengayomi, penuh kasih sayang, dan peka terhadap kondisi emosional anak kecil di sekitar lingkungan Rasulullah SAW. Peristiwa ini juga melahirkan banyak ketetapan hukum fikih dan adab sosial, seperti diperbolehkannya memberikan nama panggilan kehormatan (kunyah) bagi anak yang belum dewasa, diperbolehkannya memelihara burung kecil selama dirawat dengan baik, serta sunahnya seorang pemimpin atau guru untuk menyempatkan diri bercengkerama dengan anak-anak. Secara menyeluruh, teks suci ini mendidik umat Islam untuk selalu menekan keegoisan, bersikap ramah, serta menjadikan kelembutan sebagai identitas utama dalam membangun hubungan kekeluargaan maupun kemasyarakatan.

Komentar 0