Hadis tentang Akhlak sebagai Tolak Ukur Kebaikan Seorang Muslim
Hadis
عَنْ مَسْرُوقٍ، قَالَ كُنَّا جُلُوسًا مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو يُحَدِّثُنَا إِذْ قَالَ لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا، وَإِنَّهُ كَانَ يَقُولُ إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاقًا (رواه البخار: ٦٠٣٥)
Terjemahan
Hadis dari Masruq, yang berkata: 'kami pernah duduk bersama Abdullah bin Amr yang sedang menceritakan hadis kepada kami, tiba-tiba Abdullah bin Amr berkata: "Rasulullah SAW tidak pernah berbuat keji (baik dalam ucapan maupun perbuatan) dan tidak pula bersengaja berbuat keji. Dan Rasulullah SAW selalu bersabda: sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya. " (HR.Bukhari:6035)
Isi Kandungan Hadis
hadis ini menjelaskan tentang karakteristik utama Nabi SAW yang bersih dari segala bentuk ucapan dan perbuatan kotor (keji), baik yang dilakukan secara spontan maupun yang disengaja. Melalui kesaksian sahabat Abdullah bin Amr, hadis ini menegaskan bahwa Nabi SAW adalah teladan sempurna yang selalu menjaga kesucian diri dan tidak pernah menyakiti perasaan orang lain melalui lisan ataupun tindakan tercela. Selain itu, pernyataan Nabi SAW di akhir hadis memberikan parameter hukum moral yang kuat bagi umat Islam bahwa derajat kemuliaan seorang hamba di mata Allah dan manusia tidak diukur dari status sosial melainkan dari kebaikan akhlaknya. Secara sosial, kandungan hadis ini mendidik setiap Muslim untuk senantiasa memperbaiki kepribadian, menjauhi perilaku kasar, serta menjadikan keluhuran budi pekerti sebagai identitas utama dalam kehidupan sehari-hari.

Komentar 0