Hadis tentang Larangan Menyombongkan Diri
Hadis
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ قَالَ " إِنَّ أَخْنَعَ اسْمٍ عِنْدَ اللَّهِ رَجُلٌ تَسَمَّى مَلِكَ الأَمْلاَكِ " . زَادَ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ فِي رِوَايَتِهِ " لاَ مَالِكَ إِلاَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ " . قَالَ الأَشْعَثِيُّ قَالَ سُفْيَانُ مِثْلُ شَاهَانْ شَاهْ . وَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ سَأَلْتُ أَبَا عَمْرٍو عَنْ أَخْنَعَ فَقَالَ أَوْضَعَ.
(رواه مسلم: ٢١٤٣)
Terjemahan
Hadis dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, Nabi SAW bersabda: sesungguhnya nama yang paling hina di sisi Allah adalah seorang laki-laki yang dinamai dengan nama Malikul Amlak (Raja Diraja). Ibnu Abi Syaibah menambahkan di dalam riwayatnya: tidak ada pemilik (raja) yang sesungguhnya kecuali Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia.'Al-Asy'atsi berkata; Sufyan berkata: contohnya seperti nama Syahan Syah (Maha Raja). Dan Ahmad bin Hanbal berkata; aku bertanya kepada Abu Amr tentang makna akhna', maka Abu Amr menjawab: artinya adalah yang paling rendah/hina." (HR. Muslim: 2143)
Isi Kandungan Hadis
Hadis ini menjelaskan tentang larangan keras bagi manusia untuk menyandang gelar-gelar yang mengandung unsur kesombongan serta pengagungan yang melampaui batas makhluk. Melalui ancaman hukum akhirat bahwa gelar "Malikul Amlak" atau Raja Diraja merupakan nama yang paling hina dan paling dimurkai di sisi Allah, hadis ini menetapkan batas tegas bahwa hak kekuasaan tertinggi serta kepemilikan mutlak atas alam semesta ini hanyalah milik Allah semata. Selain itu, penjelasan para ulama salaf di akhir teks mengenai penyetaraan gelar tersebut dengan nama "Syahan Syah" memberikan fungsi edukasi bagi umat Islam agar berhati-hati dalam memberikan penamaan atau julukan kepada seorang pemimpin. Secara menyeluruh, kandungan teks suci ini mendidik setiap mukmin untuk selalu menjaga adab batin, menjauhi perilaku takabur, serta senantiasa menanamkan sifat rendah hati demi menjaga kemurnian tauhid dan keselamatan di hari kiamat.

Komentar 0