Hadis tentang Akhlak kepada Diri Sendiri
Hadis
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، أَنَّ نَاسًا، مِنَ الأَنْصَارِ سَأَلُوا النَّبِيَّ فَأَعْطَاهُمْ ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ ثُمَّ قَالَ" مَا يَكُونُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ شَيْئًا هُوَ خَيْرٌ وَأَوْسَعُ مِنَ الصَّبْرِ". قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَابِ عَنْ أَنَسٍ. وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. وَقَدْ رُوِيَ عَنْ مَالِكٍ هَذَا الْحَدِيثُ" فَلَنْ أَذْخَرَهُ عَنْكُمْ". وَالْمَعْنَى فِيهِ وَاحِدٌ يَقُولُ لَنْ أَحْبِسَهُ عَنْكُمْ. (رواه الترمذي: ٢٠٢٤)
Terjemahan
Hadis dari Ata bin Yazid, dari Abu Sa'id, bahwa beberapa orang dari kalangan kaum Ansar meminta sesuatu kepada Nabi SAW, lalu Nabi SAW memberi mereka. Kemudian mereka meminta lagi kepada Nabi SAW, lalu Nabi SAW memberi mereka lagi. Setelah itu Nabi SAW bersabda: 'Apa pun kebaikan (harta) yang ada padaku, maka aku tidak akan pernah menyembunyikannya (pelit) dari kalian. Dan barangsiapa yang menahan diri (dari meminta-minta), maka Allah akan mencukupinya. Barangsiapa yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah akan menjaga kesuciannya. Dan barangsiapa yang berusaha menyabarkan dirinya, maka Allah akan memberikan kesabaran kepadanya. Serta tidak ada seorang pun yang dianugerahi sesuatu yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.' Abu Isa (Imam At-Tirmidzi) berkata: 'Dan di dalam bab ini ada juga riwayat dari Anas.' Dan hadis ini adalah hadis hasan sahih. Hadis ini juga telah diriwayatkan dari Malik dengan redaksi 'maka aku tidak akan menyimpan harta itu dari kalian', dan maknanya adalah sama, yaitu Nabi SAW berkata tidak akan menahan harta itu dari kalian." (HR.Tirmidzi: 2024)
Isi Kandungan Hadis
hadis ini menjelaskan tentang sifat kedermawanan luar biasa Nabi SAW sekaligus edukasi karakter mengenai kemandirian ekonomi dan ketahanan mental. Melalui interaksi dengan kaum Ansar yang meminta bantuan finansial, hadis ini membuktikan bahwa Nabi SAW memiliki komitmen sosial yang tinggi dan tidak pernah bersikap pelit dalam membagikan harta yang dimiliki selama persediaan masih ada. Di sisi lain, Nabi SAW memberikan pelajaran hukum moral yang sangat fundamental bahwa kemuliaan sejati seorang Muslim terletak pada usaha keras untuk menjaga kehormatan diri (iffah) dan merasa cukup (istighna) agar tidak bergantung pada pemberian makhluk. Selain itu, penegasan Nabi SAW di akhir hadis menetapkan bahwa kesabaran merupakan anugerah karunia Allah yang paling baik, paling luas, dan paling utama bagi manusia. Secara menyeluruh, teks suci ini mendidik umat Islam untuk aktif melatih jiwa agar konsisten bersabar dalam menghadapi kesempitan hidup, menjauhi mentalitas meminta-minta, serta bersandar sepenuhnya hanya kepada kecukupan dari Allah.

Komentar 0