40 HADIS HEWAN TERNAK

KTI

Selamat datang di aplikasi 40 hadis hewan ternak

Silakan telusuri aplikasi ini untuk menemukan beragam hadis-hadis seputar hewan ternak

Tentang Penulis

Muhammad Ali Hasan Al-Banna

Informasi profil, kata pengantar, dan biodata penyusun aplikasi ini.

Daftar Isi

40 Materi Inti

Kumpulan materi kajian tematik, teks Arab, terjemahan, dan penjelasan lengkap.

Karya Tulis Ilmiah & Dakwah

Indeks Materi 40 HADIS HEWAN TERNAK

Penyusun: Muhammad Ali Hasan Al-Banna

Tentang Penulis

Daftar Isi

Pencarian

Hadis tentang Pencegahan Penyakit pada Hewan Ternak

Disusun oleh: Muhammad Ali Hasan Al-Banna (@AliHasan11) · Bagian dari 40 HADIS HEWAN TERNAK

Hadis

 وَعَنْ أَبِي سَلَمَةَ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ بَعْدُ يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُورِدَنَّ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ وَأَنْكَرَ أَبُو هُرَيْرَةَ حَدِيثَ الْأَوَّلِ قُلْنَا أَلَمْ تُحَدِّثْ أَنَّهُ لَا عَدْوَى فَرَطَنَ بِالْحَبَشِيَّةِ قَالَ أَبُو سَلَمَةَ فَمَا رَأَيْتُهُ نَسِيَ حَدِيثًا غَيْرَهُ. (رواه البخاري: ٥٣٢٨)[1]

Terjemahan

Hadis dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dia berkata: Nabi SAW bersabda: "Tidak ada 'adwa (keyakinan adanya penularan penyakit) tidak ada shafar (menganggap bulan shafar sebagai bulan haram atau keramat) dan tidak pula hammah (keyakinan jahiliyah tentang rengkarnasi)." Lalu seorang Arab badui berkata: "Wahai Rasulullah, lalu bagimana dengan unta yang ada di padang pasir, seakan-akan (bersih) bagaikan gerombolan kijang lalu datang padanya unta berkudis dan bercampur baur dengannya sehingga ia menularinya?" Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Lalu siapakah yang menulari yang pertama?" Setelah itu Abu Salamah mendengar Abu Hurairah mengatakan: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Janganlah (unta) yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat." -sepertinya Abu Hurairah mengingkari hadits yang pertama- maka kami bertanya: "Tidakkah anda pernah menceritakan bahwa tidak ada 'adwa (keyakinan adanya penularan penyakit)." Lalu dia bicara dengan bahasa Habasyah, maka aku tidak pernah melihatnya lupa terhadap hadits selain hadits di atas." (HR al-Bukhari: 5328)

Isi Kandungan

Hadis ini mengajarkan bahwa seorang muslim harus memiliki akidah yang benar dalam memandang penyakit yang menimpa hewan ternak. Rasulullah SAW menegaskan bahwa penyakit tidak menular dengan kekuatannya sendiri, melainkan semua yang terjadi berada di bawah kehendak dan ketetapan Allah SWT. Sabda beliau, "Lalu siapakah yang menulari yang pertama?", merupakan bantahan terhadap keyakinan masyarakat jahiliah yang menganggap penyakit memiliki kekuatan mandiri untuk berpindah dari satu hewan ke hewan lain. Dengan demikian, seorang muslim wajib meyakini bahwa Allah adalah Dzat yang menciptakan penyakit sekaligus yang memberikan kesembuhan.

Meskipun demikian, hadis ini juga mengajarkan pentingnya melakukan ikhtiar dalam menjaga kesehatan hewan ternak. Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah (unta) yang sakit dicampurkan dengan yang sehat." Perintah ini menunjukkan bahwa Islam mengakui adanya sebab-sebab yang dapat mengantarkan kepada penularan penyakit sebagai bagian dari sunnatullah yang Allah tetapkan di alam semesta. Oleh karena itu, pemilik ternak dianjurkan untuk memisahkan hewan yang sakit dari hewan yang sehat, menjaga kebersihan kandang, memberikan perawatan yang memadai, serta melakukan langkah-langkah pencegahan agar penyakit tidak menyebar ke seluruh ternak.

Dalam konteks pemeliharaan hewan ternak, hadis ini menjadi pedoman bahwa tawakal kepada Allah harus disertai dengan usaha yang nyata. Seorang peternak tidak boleh bersikap pasrah tanpa melakukan tindakan pencegahan, sebagaimana ia juga tidak boleh meyakini bahwa sebab-sebab tersebut bekerja secara mandiri tanpa kehendak Allah. Sikap yang benar adalah memadukan keyakinan kepada takdir Allah dengan ikhtiar yang maksimal dalam menjaga kesehatan hewan ternak.

Selain itu, hadis ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kesejahteraan hewan ternak. Menjaga ternak agar terhindar dari wabah penyakit merupakan bagian dari tanggung jawab pemilik terhadap amanah yang telah Allah titipkan kepadanya. Dengan memelihara kesehatan ternak, seorang muslim tidak hanya menjaga keberlangsungan sumber pangan dan mata pencaharian, tetapi juga melaksanakan tuntunan syariat yang mengajarkan kasih sayang, tanggung jawab, dan pengelolaan hewan ternak secara bijaksana. Hadis ini menjadi dasar penting bahwa pengelolaan kesehatan ternak merupakan bagian dari etika pemeliharaan hewan dalam Islam, yang memadukan akidah yang lurus dengan ikhtiar yang benar sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

Referensi

  1. Abu Abdullah Muhammad Ibni Isma’il al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari (Beirut: Dar al-Fikr, 2006) Juz 19, h. 234.

Komentar 0